Sepanjang pekan lalu index masih berada dalam rentang konsolidasi 4990 – 4712. Sudah 4 pekan index berada di area tersebut. Minggu lalu index yang dibuka 4942 turun -0.8% dan ditutup di level 4904. Bergantian sentimen positif dan negatif sambangi bursa, baik dari dalam negeri dan global. Tekanan kasus COVID, fluktuasinya harga komoditas serta stimulus yang diberikan oleh Pemerintah menjadi katalis yang jaga index dalam rentang 4 minggu sideways. Apakah minggu ini index masih akan direntang yang sama ? Apakah sentimen window dressing bisa angkat IHSG saat COVID sudah tularkan lebih dari 10 juta orang globally ?

Analisis Weekly Chart IHSG

Perjuangan  index selama pekan lalu relatif cukup berat. Dalam 5 hari perdagangan 3 alami koreksi dan 2 alami penguatan. Betul betul alami periode Kanguru dimana hijau dan merah bergantian dalam sepekan. Investor asing pun tidak melakukan single net buy selama pekan lalu. Catatan outflow bergerak pada rentang -225 milyar hingga puncaknya di hari Jumat capai -697 milyar.Net sell asing di pasar regular capai -1.9 trilyun, bila pasar nego juga dihitung maka totalnya mencapai -2.2 trilyun.

Pergerakan IHSG dan Net Sell Asing Sepekan

TLKM Masih Jadi Penyumbang Net Sell Asing Sepekan Terakhir

Sektor INFRASTRUCTURE menjadi yang paling menekan dari sisi outflow asing dan capai nilai hingga -805 milyar. Disusul oleh FINANCE -400 milyar dan CONSUMER -257 milyar. Hanya MISC-IND yang masih ada inflow hingga +138 milyar.

Net Sell Asing Periode 22 – 26 Juni 2020

Tingginya aksi jual di sektor INFRA mayoritas didominasi oleh masih derasnya outflow asing di saham TLKM yang pekan lalu tercatat -719 milyar. Menjadi saham dengan net outflow tertinggi sepanjang periode 22-26 Juni. Bank BRI Unilever dan Bank BNI juga mendapatkan tekanan yang sama. BBRI bahkan lebih dari -500 milyar net sell asing. Sedangkan emiten yang masih mendapatkan suntikan dana dari asing di pasar regular adalah  ASII dan BBCA. Nilainya +147 milyar dan +142 milyar. Ada 2 saham yang punya catatan net buy lebih tinggi namun terjadi di pasar tunai dan nego : SMMA dan BCAP.

Net Buy Asing Periode 22 – 26 Juni 2020

Detail Market Summary 26 Juni 2020

Adakah Potensi Window Dressing di Bulan Juni Ini ?

Kondisi IHSG sudah  sideways selama 4 pekan setelah alami RALLY on BEAR MARKET. Setelah sentuh level terendah 3911 sebenarnya IHSG belum berhasil keluar dari kondisi bear marketnya dimana saham masih  gagal untuk bertahan di area 4995. 4995 merupakan titik penentu berakhirnya BEAR MARKET (-20% dari high dalam 52 weeks).  Dibandingkan dengan counterpart di regional, IHSG menjadi yang paling buruk performanya sejak terimbas COVID19. YTD result composite masih turun -22.15% lebih buruk ketimbang Filipina dan Singapore.

Perbandingan Performa Bursa Dunia (sumber IDX)

Catatan rekor buruk IHSG ini harus dibisa ‘percantik’ sehingga tidak membuat investor menjauh dari bursa lokal. Salah satunya adalah melakukan window dressing sebagai praktek yang biasa dilakukan oleh Fund Manager dan emiten jelas tutup buku kuartal II atau half year performance appraisal.

Tanpa adanya window dressing akan sulit bagi fund manager untuk meyakinkan nasabah bahwa institusinya bisa outperform industry dan index pembanding. Bila performa masih rendah atau negatif maka dikhawatirkan akan terjadi shifting dan migrasi ke instrumen lain yang lebih menjanjikan kepastian.

Memang tidak ada jaminan bahwa window dressing akan terjadi, namun bila ada bisa dijadikan peluang untuk profit taking sebelum melakukan rebalancing portfolio ke saham atau instrumen lain yang lebih prospektif di tengah tekanan COVID yang semakin menjadi. Kemarin COVID telah capai level 10 juta orang terjangkiti dengan lebih dari 500ribu kematian.

Case COVID Dunia (sumber Worldometer)

Wall Street Ambrol -700 poin, IHSG Potensi Gap Down

Serempak 3 index utama di Wall Street ambruk dalam perdagangan hari Jumat jelang libur weekend. Semua tutup turun minmal -2.42%.  DOW menjadi yang paling banyak terpangkas hingga -730 atau -2.84%. Kekhawatiran akan second wave COVID di Amerika Serikat membuat beberapa negara bagian putuskan untuk tunda pembukaan aktivitas ekonomi tambahan. Bahkan index VIX sebagai indikator kekhawatiran market naik +7.79% ke level 34.73.

Market Asia Pacific juga dibuka turun pagi ini dan index Futures perdagangan bursa Amerika masih dalam tekanan. Hal ini membuat ekspektasi bahwa IHSG dalam perdagangan pagi cenderung untuk terkoreksi.

Secara teknikal index pada hari Jumat gagal untuk break area resisten EMA7 dan MA20 membentuk long upper shadow. Hal ini tandakan masih kuatnya tekanan jual. Sejak 4 hari stochastic cenderung berimpitan tak ada kejelasan di area 50-20 dengan kecenderungan kekuatan BEAR yang leading. MACD histogram pun cenderung di arah negatif sehingga belum ada tanda tanda perbaikan buat index.

Analisis Daily Chart IHSG

Pagi ini index potensi melemah dengan uji 3 support : 4879-4852-4817. Potensi gap down dapat menjadi peluang  untuk buy low dan sell high untuk scalping intraday.  Jangan panic sell pada saat pembukaan. Positifnya harga batubara dan nikel dapat menjadi katalis saham saham MINING bila dibanting pagi lalu rebound.

Beberapa saham yang bisa diperhatikan untuk fast trade scalping : BBRI BBCA BBNI BMRI PTBA INCO ADRO  INDF ICBP TKIM ASII ISAT EXCL UNVR  

Tone dan Manner Hari Ini :  Bisakah IHSG Alami Window Dressing Saat COVID Capai 10 Juta Threshold

Support – Resisten  : 4800 – 4920

Info YOUTUBE Channel SAHAMOLOGY TV

Ikuti program program Live Streaming via Youtube Channel SAHAMOLOGY TV : sore dan malam

https://www.youtube.com/watch?v=ZwBbk7gEf9Y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *