Curve Mulai Flat, Kasus Baru Berkurang, Juli Bisa Normal Kembali Aktivitas

IHSG kemarin kembali alami hari yang volatile dengan rentang pergerakan nyaris 80 point. Sempat sentuh level terendah 4474 dan tertinggi 4541 sebelum ditutup naik +0.38%. Walaupun masih sisakan 2 sektor melemah kemarin, IHSG tidak membuat low yang baru. Ekspektasi sudah mulai melambatnya kasus baru COVID di dalam negeri serta proyeksi Juli kegiatan akan berlangsung ‘new normal’ jadi penyebabnya. Bahkan di global pun, reopening economy menjadi sentimen positif yang diharapkan bisa memulihkan market secara perlahan.

Sektor INFRASTRUCTURE Jadi Pemimpin Kenaikan Saat Bank Besar Rebound

Jawara dari perdagangan kemarin adalah sektor INFRA yang naik +1.35% serta penguatan saham ASII +2.20% sehingga dorong MISC-IND naik +1.30%. Reboundnya dua saham bank utama BBCA dan BBRI +0.81% dan +1.14% membantu IHSG tidak tutup di zona merah. Dari 10 saham market mover lebih banyak yang tutup menguat kecuali BMRI TPIA dan BRPT yang kemarin terkoreksi dengan rentang -0.28% hingga -3.03%

Satu satunya sektor yang terkoreksi cukup dalam kemarin adalah PROPERTY, anjlok -1.31% setelah 2 saham utamanya alami koreksi. POLL yang punya bobot 15.84% pada sektor ini anjlok ARB -6.8% ke level 5475. Koreksi beruntun ini telah bawa saham Pollux sudah alami penurunan -50.68% dari market cap nya di awal tahun.  PWON juga kemarin turun -3.42%, namun tidak sedrastis koreksi saham DMAS -6.93%. Saham kelompok usaha Sinarmas di Cikarang, DMAS turun berturut turut 2 hari ARB setelah ex-date pemberian dividen. Note untuk para trader untuk tidak terlalu memburu dividen, karena setelah ex-date saham cenderung anjlok menyesuaikan.

Secara valuasi saham ini memang sudah sangat kemahalan dan cenderung bubble. Market cap nya nyaris 3x lipat PWON dan 3.5x BSDE.  PER nya 912x dengan PBV 25.70x. Bandingkan dengan PWON yang PER nya 5.63x dan PBV 2.33x. Kondisi ini membuat secara relatif saham ini 10x lipat lebih mahal dari peersnya. Bila asumsi ini kita jadi pertimbangan untuk menghitung harga ideal nya maka seharunya POLL diperdagangkan di level 550 – 600 per lembarnya.

Transaksi Sepi, Namun Asing Masih Lakukan Net Sell

Value perdagangan kemarin relatif rendah hanya 5.34 trilyun dengan 61.6 juta lot saham dipertukarkan. Kondisi wait see dan terkonsolidasi membuat jumlah saham yang turun lebih banyak dari yang naik :  216 vs 170.  Overall total market cap kemarin di level 5233 trilyun dengan BBCA masih menjadi yang terbesar dengan besaran kapitalisasi pasar 605 trilyun.

Asing masih catatkan net sell walaupun tidak semasif transaksinya di hari Jumat yang lebih dari 1 trilyun. Jumlah outflow kemarin di pasar regular hanya -531 milyar, nyaris terpangkas 50%.  Seperti biasa sektor FINANCE tetap jadi sasaran aksi jual, tercatat -362 milyar dana asing keluar kemarin. Sektor lain yang juga alami tekanan jual adalah  INFRASTRUCTURE -45.4 milyar dan PROPERTY -40 milyar

Saham yang banyak dijual asing kemarin adalah BMRI -133 milyar, BBRI -115 milyar dan BCBA -75 milyar. Sedangkan yang banyak diborong asing adalah ADRO  +18 milyar, PGAS +3.5 milyar dan SMGR +2.9 milyar.  Saham SMGR kemarin masih menguat +6.72% karena terimbas oleh sentimen rencana divestasi SMCB yang direncanakan dalam waktu dekat.

Reopening Economy, New Normal Jadi Sentimen Penggerak

Walaupun semalam harga minyak mentah  WTI kembali dihantam koreksi -24.56% namun 3 index utama di Wall Street masih bisa bertahan ditutup hijau. Kekhawatiran bahwa kapasitas penyimpanan/storage minyak mentah akan penuh paksa WTI price untuk kontrak Juni turun – USD 4.16 ke level USD 12.78 per barrel. Harga kontrak untuk Juli pun masih rendah USD 18.18 per barrel tandakan masih adanya ekspektasi oversupply.

Namun koreksi harga minyak tidak membuat market jadi worry, karena sentimen reopening economy beberapa negara Europe dan negara bagian Amerika lebih punya impact. Pelaku pasar tahu bahwa masalah supply jadi urusan negara negara OPEC+  Rusia & Amerika untuk resolve. Hal terpenting saat ini yang jadi pemikiran pemimpin negara adalah kapan dan bagaimana ekonomi bisa dibuka kembali. Beberapa negara bagian di Southern region US seperti Georgia, South Carolina, Tenesse mulai membuka aktivitas ekonomi parsial bersama dengan Texas dan Alaska.

DOW semalam kembali lagi ke level 24000 setelah naik +358 point. S&P menguat +1.47% dan NASDAQ up +95 point ke 8730. Index volatilitas VIX makin stabil di level 33.29 dan semakin dekati angka threshold 20 untuk market normal. Bila angkanya sudah di 13-14 artinya market strong uptrend. Saham saham perbankan besar menjadi pendorong DJIA dan S&P, terimbas kenaikan yield surat utang 10 tahun. Bank of America naik +5% bersama dengan Goldman Sachs, JP Morgan terapresiasi +4.3% dan Wells Fargo +5.5%

Walaupun Masih Sideways Down, IHSG Tak Bentuk Low Baru

Walaupun indicator cepat masih belum ada pemulihan namun index yang tidak bentuk low baru jadi harapan bertahan. Kemarin index sudah memantul dari level support konsolidasi  4480 namun gagal break area resisten EMA7 4577. Kondisi spinning top ini masih tandakan keraguan investor. Apalagi body candle relatif tipis bukti bahwa opini pelaku pasar masih belum kuat.

Stochastic makin mendekati area oversold dibawah 20. Stoc %K 19.37 dan Stoc %D masih di 23.94. Mungkin jelang akhir pekan akan ada konfirmasi kenaikan sementara lagi. MACD histogram pun masih negatif.

Namun jangan khawatir karena masih ada saham saham potensial yang bisa diperhatikan untuk trading cepat hari ini sehingga bsia dimasukkan ke watchlist seperti : ASII BBCA UNVR TLKM TBIG SCMA JSMR ERAA EXCL GGRM HMSP JPFA INKP SMGR  dan TKIM . Sebenarnya masih ada saham saham mining related yang bisa dimasukkan juga, namun karena sentimen minyak dan coal kurang gereget tidak dimasukkan. Bila tetap hendak dimasukkan listnya adalah : ADRO AKRA ANTM UNTR PGAS INCO dan TCPI

Tone dan Manner Hari Ini : Sentimen Reopening Economy Jadi Support Bursa Agar Tidak Jatuh

Support – Resisten  : 4365 – 4660

******

Salah satu ilmu tertua dari analisis perdagangan saham harian adalah membaca antrian atau order book yang ada di Online Trading  Hal ini bisa menggambarkan psikologi market hari itu apakah lebih banyak terjadi interest untuk penjualan atau pembelian.

Ilmu yang diberi nama Tape Reading atau Baca Bid Offer ini adalah suatu teknik yang mutlak dimiliki oleh seorang trader harian (intraday trader) yang ingin mendapatkan profit cepat dari jual beli saham di hari yang sama.

Banyak hal yang bisa digali dari membaca bid offer ini mulai dari kekuatan demand dan supply, support dan resisten hingga melihat adanya pola tekanan jual dan dorongan beli.

Develop Skill  untuk Intraday atau Scalping Trading bersama Satrio Utomo   

Klik link pendaftaran di link Loket.COM  >>>>    https://www.loket.com/event/fast-trade-menggunakan-tape-reading-bid-offer-sahamology

*******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *