Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh….

Ketika berdagang saham, motivasi terbesar saya adalah dari hadist berikut ini:

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).”

Saya kemudian bertanya pada seorang Ustadz: apakah ini berarti pedagang yang jujur dan amanah itu akan berada di surga? Iya kata beliau. Rasul dan para syuhada, itu kan tempatnya di Surga. Jadi kalau dikumpulkan bersama Rasul, itu berarti ‘pedagang’ sudah masuk surga.

Semua pedagang masuk surga? Tidak juga. Dalam Hadist itu disebutkan bahwa Pedagang Jujur dan Amanah, adalah yang dikumpulkan bersama Rasul dan para Syuhada.

Menjadi Pedagang itu mudah ‘tergelincir’

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/43, 99, 100, At Thahawi dalam Musykilul Atsar 3/12, Al Hakim 2/6-7)

Dari situ kita bisa melihat bahwa meski Pedagang (yang jujur dan amanah) akan bersama Rasul di Surga, tapi profesi pedagang itu mudah membuat orang tergelincir. Dalam aktifitasnya untuk melakukan melakukan transaksi, seorang pedagang bisa dengan mudah ‘membumbui’ transaksinya dengan dusta, kebohongan, sumpah palsu, riba, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, dalam melakukan perdagangan, kita harus selalu berhati-hati.

Pasar itu bukan tempat yang ‘Baik’

Pasar itu adalah tempat dari manusia melakukan perdagangan. Di masa hidupnya, Rasulullah adalah seorang pedagang. Rasulullah itu tidak semata-mata orang yang berdiam di masjid, dzikir, tapi rasulullah itu juga berjalan-jalan di pasar.“Kami tidak mengutus sebelummu para rasul, melainkan sesungguhnya mereka sungguh memakan makanan (seperti kalian) dan berjalan di pasar…” (QS. Al Furqan 20).Meskipun demikian, pasar itu bukan sebuah tempat yang ‘bersih’. Allah SWT sebenarnya tidak suka dengan tempat yang bernama pasar.Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, ‘Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya,’” (HR Muslim). Kontradiktif? Pedagang masuk surga kok Pasar tempat yang dimurkai Alloh SWT? Imam Nawawi menjelaskan: Artinya, “Nabi bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan, dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, riba, janji-janji palsu, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Syarah An-Nawawi ‘ala Sahih Muslim, [Beirut, Daru Ihyait Turats Al-Arabi: 1392 H).

Sahabat Rasulullah Salman Al Farisi menyatakanJika kamu bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar, dan yang terakhir keluar pasar. Karena pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya. (HR. Muslim 2451)Jadi.. Pasar itu tempat orang melakukan perdagangan, melakukan muamalah, hubungan antara manusia. Pedagang yang jujur dan amanah itu akan berada di surga bersama Rasul dan para Syuhada. Padahal, Pasar itu tempat yang tidak disukai oleh Alloh SWT karena pasar itu tempat dari setan, tempat semua kegiatan yang terkait dengan tipu menipu, riba, janji palsu, mengabaikan Alloh SWT, dll.

Pasar Modal itu ‘Biangnya’ Pasar

Pasar Modal itu ‘biang’ (induknya) pasar. Kalau perputaran di sebuah pasar itu biasanya hanya ratusan juta atau mungkin miliaran, perputaran uang di pasar modal bisa trilyunan untuk setiap harinya. Itu sebabnya, ketika kita berada di Pasar Modal, jangan heran kalau kita kemudian melihat orang menipu, orang yang bagi bilang beli sore bilang jual, orang yang melakukan hal-hal yang sebenarnya melanggar aturan perdagangan secara syariah.

Sudahkah Kita menjadi Pedagang yang Jujur dan Amanah?

Intinya bagi saya begini: Orang yang berada di Pasar Modal seperti saya (atau mungkin juga ‘Kita’) akan lebih mudah tergelincir ke dalam jurang neraka (karena Pasar Modal adalah ‘biang’nya Pasar, dimana Pasar adalah tempat yang dimurkai Alloh), KECUALI jika saya (atau mungkin Kita) menjadi pedagang yang JUJUR dan AMANAH. Pertanyaannya adalah: Sudahkah kita menjadi Pedagang yang Jujur dan Amanah?

Saya hanya bisa berusaha. Berusaha untuk amar ma’ruf nahi munkar. Berbuat kebaikan dan menjauhi kemunkaran, menjauhi hal-hal yang tidak baik. Semoga Alloh SWT selalu menunjukkan jalan bagi Kita semua… Semoga Alloh SWT selalu memberikan petunjuk agar kita bisa istiqomah di jalan kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *