Setiap hari, harga bergerak naik dari sebuah suport menuju ke sebuah resisten atau turun dari sebuah resisten menuju ke sebuah sebaliknya.  Dalam kondisi ceteris paribus, pergerakan harga saham diantara satu suport dan resisten ini berlangsung terus menerus.

Ketika menghadapi pergerakan seperti ini, strategi yang bisa diterapkan sebenarnya relatif sederhana: beli ketika harga berada di area suport, dan jual ketika harga berada di area resisten.

Jika stoploss ternyata terpaksa dilakukan, maka posisi stoploss bisa dilakukan ketika harga menembus suport (untuk stoploss beli), atau… ketika harga menembus resisten, maka posisi yang sudah dijual ketika harga berada di posisi resisten, kembali dilakukan pembelian kembali (buy back) ketika harga menembus resisten.

Permasalahan ketika volatilitas market meningkat.

Belakangan ini, saya melihat sebuah fenomena menarik: pergerakan harga yang lebih volatile dibandingkan dengan pergerakan harga yang biasa terjadi.  Fenomena ini sebenarnya relatif normal ketika kita mengamati pergerakan harga saham di bursa yang sudah maju, seperti bursa Amerika.  Akan tetapi, fenomena ini relatif baru bagi pergerakan harga saham di bursa kita.    Ketika ini terjadi, harga saham tidak lagi bergerak didalam atau diantara sebuah suport atau resisten.  Reversal tidak terjadi pada saat harga berada di suport atau resisten, tapi reversal terjadi setelah harga sempat menembus suport atau resiten tersebut.

Ini membuat strategi lama (beli ketika di suport dan jual ketika di resisten, serta stoploss ketika suport/resisten ditembus) seperti diatas tidak bisa lagi untuk diterapkan.  Melakukan strategi lama akan membuat anda beli ketika harga berada di titik puncak, atau anda melakukan cut loss ketika harga berada di bottom area.

Anda bisa melihat pada gambar diatas bahwa ketika kita melakukan cut loss, disitu malah terjadi bottom dari pergerakan harga.  Ketika anda melakukan average up, disitu malah mendekati puncak pergerakan harga.

Ujung-ujungnya… jika anda melakukan posisi beli atau jual sesuai dengan ‘pakem’ atau ‘aturan’ yang normal… maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

120606 buy sell until broke

Contrarian Positioning sebagai Solusi

Solusi dari permasalahan ini adalah dengan melakukan contrarian positioning.  Contrarian positioning ini bukanlah ‘melakukan posisi beli ketika terjadi signal jual’ atau ‘melakukan posisi jual ketika terjadi signal beli’.  Akan tetapi, contrarian positioning ini berarti ‘melakukan posisi beli pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi jual’,  dan sebaliknya ‘melakukan posisi jual pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi beli’.  Anda bisa melihatnya pada gambar dibawah ini:

Jadi… pada strategi contrarian ini, kita melakukan posisi beli dibawah posisi suport, dan posisi jual dilakukan setelah harga menembus resisten.  Strategi ini sebenarnya ‘tidak boleh’ untuk dilakukan.  Bagaimana tidak… kita melakukan posisi beli di kisaran harga ketika kita tidak boleh melakukan posisi beli.  Disisi lain, kita malah melakukan posisi jual ketika kita seharusnya melakukan posisi jual.  Strategi ini memang lebih beresiko.

Karena resikonya lebih tinggi, maka saya hanya bisa menyarankan: jika anda menggunakan strategi ini, tetapkan dulu stoploss levelnya sebaiknya tidak terlalu jauh dengan posisi entry level anda.

Jadi…. belakangan, suport dan resisten memang berasa aneh.  Tapi… kalau menurut saya sih, jangan suport atau resistennya yang kemudian tidak dipakai. ‘Positioning’-nya yang kemudian ‘diakali’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *