Buat banyak investor pemula yang memulai investasi saham kadang masih bingung bagaimana mengukur sukses investasinya mengingat banyaknya definisi sukses di bursa saham.

Ada yang bilang sukses itu bila bisa untung sebanyak banyak atau sebesar besarnya dari saham. Satu lagi bilang kalau sudah kaya dan bisa membiayai kehidupan dari saham itulah dinamakan sukses. Bahkan ada lagi yang bilang sukses apabila sudah bisa kalahkan pertumbuhan bunga deposito dalam setahun. Bingung kan ??

Definisi Investasi Untuk Investor Pemula

Nah untuk mempermudah kita kembali dulu ke definisi apa itu investasi. Investasi adalah kegiatan menunda pengeluaran yang bersifat konsumtif untuk dibelikan instrument/benda/aset yang cenderung memiliki kenaikan nilai di masa depan.  Jadi terlihat bahwa investasi itu adalah menunda kenikmatan saat sekarang untuk  sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi di kemudian hari.

Perlu digaris bawahi bahwa instrument yang kita beli saat ini di masa depan harus punya nilai (value) lebih tinggi dari harga (price) yang kita bayarkan untuk membelinya. Sehingga ketika dilakukan penjualan terjadi profit (capital gain).

Kita sama sama tahu bahwa uang punya kecenderungan mengalami penurunan nilai setiap tahunnya dikarenakan faktor inflasi. Hal ini yang membuat kenapa uang 20 ribu tahun ini hanya bisa dibelikan semangkok bakso padahal 15 tahun mungkin bisa dapat 10 mangkok bakso. Bila uang yang kita punya hanya ditaruh di bawah bantal atau celengan ayam tanah liat maka dari tahun ke tahun walaupun jumlahnya sama tapi nilainya berubah bila dikonversi untuk membeli barang. Untuk itulah uang tersebut di investasikan sehingga bisa alami kenaikan nilai minimal bisa menahan inflasi tadi.

Berikut ini adalah beberapa kriteria sukses dari sebuah investasi saham yang dilakukan oleh pemula

Investor Saham Pemula Jangan Rugi

Kembali ke teori dasar bahwa investasi adalah perlindungan atas nilai uang yang dimiliki terhadap inflasi. Bila uang yang kita investasikan malah rugi maka secara langsung dapat kita bilang “KITA GAGAL BERINVESTASI”

Bayangkan saja alih alih bisa mengalahkan inflasi, uang yang kita investasikan malah susut dari 1000 menjadi 800 dalam 1 tahun atau rugi -20%. Itu artinya bila inflasi riil adalah 2,7% maka penyusutan nilai uang yang dimiliki tahun berikutnya menjadi -22,7%

Saham Post IPO : AYLS Turun ke level 59

Nah perlu kita ketahui bersama bahwa instrument seperti Saham ataupun Reksadana Saham  tidak memberikan jaminan keuntungan yang pasti. Ada potensi naik dan turun dalam jangka pendek sehingga kita perlu berhati hati dalam memilih saham yang akan diinvestasikan.

Hasil Investasi Naik Lebih Tinggi dari Inflasi

Kriteria sukses yang kedua adalah bila saham atau instrument lainnya tumbuh diatas inflasi. Sebagai contoh bila satu tahun setelah investasi uang kita tumbuh 2,7% sedangkan inflasi berkisar 2,7% maka dapat dinyatakan investasi tersebut hanya breakevent alias tidak naik dan tidak turun. Ini merupakan tanda bahwa saham pilihan kita bukan pemenang karena  value uang yang kita investasikan di dalamnya memiliki nilai yang sama dibandingkan dengan setahun lalu dan tidak ada peningkatan sama sekali.

Data Inflasi (sumber BI)

Pemenang atau winning instrument apabila bisa memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi dari inflasi. Misalkan bila inflasi 2,7% maka minimal disebut pemenang bila tumbuh 50% diatas inflasi tadi atau memberikan return > 4%.

Bandingkan dengan Imbal Hasil Fixed Income, Harus Lebih Tinggi

Saat ini begitu banyak instrument surat utang yang dikeluarkan oleh negara baik dalam bentuk Obligasi maupun Sukuk. Surat utang ini memberikan tingkat imbal hasil bervariasi mulai dari 6,3% hingga 8% dengan pajak 15% dan dibayarkan tiap bulan tetap selama 3 tahun. Instrument fixed income ini secara riil memberikan return 5.355% hingga 6.8%.

Penawaran SR012 dengan Kupon Imbal Hasil 6,30%

Bila saat ini dana yang sama kita investasikan ke instrument tersebut maka secara pasti kita akan dapatkan imbal hasil tersebut. Oleh karena itu kriteria sukses ketiga adalah bila saham yang kita beli selama satu tahun memberikan return diatas 6,3% – 8%. Bila  tidak maka untuk apa kita berspekulasi menanamkan uang di saham

Bila IHSG Positif, Pastikan Bertumbuh diatas Kenaikan Index

Idealnya IHSG selalu tumbuh positif dari tahun ke tahun. Namun dalam 5 tahun terakhir IHSG hanya tumbuh +10.53%  sehingga sulit untuk dijadikan benchmark.

Namun from time to time kita bisa mengukur kesehatan investasi saham kita dengan melihat pada pertumbuhan IHSG nya sendiri

Performa IHSG (sumber RTI)

Sebagai contoh kita di selama tahun 2020 sudah membeli saham BBRI dengan harga rataan 4535 dan sekarang saham tersebut memiliki harga 4210. Artinya investasi kita di BBRI tergerus -7.2%. Jelas bila mengacu kepada kriteria sukses no 1 “TIDAK RUGI” invetasi kita di saham BBRI tidak bagus. Namun bila dibandingkan dengan IHSG yang year to date turun -10.45% maka pilihan kita atas saham BBRI tidaklah buruk.

Nah udah mulai ngerti kan gimana cara mengukur sukses dari investasi di saham ? Coba mulai diterapkan dengan mengukur investasi kamu selama tahun 2020 apakah sudah masuk di level 1, 2 ataupun 3.   Yang jujur ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *