Pengantar: Setiap kali saya menulis, entah itu buku, blog, website, kolom, saya selalu memulai dengan nasehat ini. Maklum saja, lagu yang dinyanyikan oleh para Nyangkuters, terutama yang hari-hari ini banyak terjadi adalah Nyangkuters dari program Yuk Nabung Saham tetap saja sama: Raungan Tangis Pilu yang selalu muncul ketika market bearish. Agar kita tidak sesat dalam transaksi saham, mari kita nikmati (sekali lagi) tulisan saya yang sangat ‘menonjok’ ini. Trading itu berbeda dengan investasi. Terima kasih.

———————————————-

Satu fakta yang harus kita perhatikan ketika kita mulai melakukan transaksi beli dan jual saham adalah bahwa Trading berbeda dengan investasi.  Perbedaannya terutama terletak pada jangka waktu investasinya (investment time horizon),sumber dari keuntungan, alat analisis yang digunakan untuk melakukan prediksi,dan bagaimana seorang pemodal akan mencapai keuntungan.

Jangka Waktu Investasi & Sumber Keuntungan

Jangka waktu investasi adalah perbedaan terbesar antara investasi dengan trading. Perbedaan dari jangka waktu investasi ini, nantinya juga akan memunculkan perbedaan lainnya. Ketika seorang investor melakukan pembelian saham dengan motif untuk melakukan investasi, maka ia berharap akan prospek atau bisa juga nilai (value) dari perusahaan untuk jangka panjang. Pada prinsipnya, seorang investor hanya melakukan posisi beli jika melihat sebuah perusahaan dengan prospek yang bagus.  Saham ini kemudian akan ditahan selama investor tersebut tidak melihat adanya perubahan fundamental yang mendasar terjadi pada perseroan.  Oleh karena perubahan fundamental yang mendasar ini sering kali tidak bisa berlangsung cepat (ingat, fakta yang mendasari selalu berasal dari laporan keuangan perseoran yang hanya dipublikasikan setiap 3 bulan sekali), maka holding periods (masa simpan) dari saham ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama.  Bisa satu tahun, tiga tahun, lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun.  Oleh karena itu, seorang investor memang memperoleh keuntungan dari apresiasi pergerakan harga untuk jangka panjang.

Disisi lain, seorang trader, melakukan pembelian saham dengan waktu simpan yang pendek.  Entry (beli) – Untung – Exit (jual). Keuntungan besar dan cepat. Itulah yang diinginkan oleh seorang trader.  Pendeknya jangka investasi ini karena seorang trader bereaksi terhadap perubahan pergerakan harga, lebih dari sekedar perubahan kondisi fundamental dari perseorang. Ini yang menyebabkan holding periodsnya menjadi cenderung pendek. Bisa dalam hitungan bulan, minggu, hari, jam, bahkan menit.

Alat analisis

Perbedaan sumber informasi ini (investasi dari fakta fundamental, sedangkan trader dari pergerakan harga) inilah yang kemudian membuat alat analisisnya menjadi berbeda.  Seorang investor sudah dipastikan akan menggunakan analisis fundamental.  Disisi lain, seorang trader lebih bereaksi terhadap perubahan pergerakan harga.  Jadi alat analisisnya bisa macem-macem.  Pake fundamental juga bisa.  Tapi lebih sering menggunakan alat analisis yang lain, seperti analisis teknikalanalisis perilaku, atau alat-alat analisis yang lain, selama masih dalam batasan aturan pasar modal tentu saja.

Tujuan Investasi dan Bagaimana Cara Seorang Pemodal Mencapainya

Seorang investor akan mengedepankan rasio.  Semua harus ada landasan pemikirannya.  Semua harus masuk akal. Semua harus sesuai dengan teori yang diterima secara umum (terutama di jalur pendidikan resmi/sekolah).  Untung ya untung, tapi harus rasional.  Itulah prinsip dari seorang investor.  Disisi lain, seorang trader meletakkan keuntungan diatas segala-galanya.  Pertimbangan apakah cara yang ditempuh harus rasional, tidaklah penting.  Yang penting untung.  Untung sesuai dengan aturan pasar modal yang ada.

Strategi Transaksi: Investor vs Trader

Perbedaan tersebut diatas membuat strategi transaksi antara seorang investor dan seorang investor menjadi berbeda.  Seorang investor akan memilih saham dan kemudian melakukan posisi beli, dan kemudian akan menahannya (hold) selama mungkin.  Selama tidak ada perubahan fundamental yang mendasar, buat apa melakukan posisi jual?  BELI KETIKA MURAH, DAN TAHAN SELAMA MUNGKIN SELAMA TIDAK ADA PERUBAHAN PROSPEK.

Disisi lain, seorang trader selalu melihat arah pergerakan harga.  Ketika harga akan bergerak naik, dia akan melakukan posisi beli, sedangkan ketika harga akan bergerak turun, dia akan melakukan posisi jual.  BELI KETIKA AKAN NAIK, DAN JUAL KETIKA AKAN TURUN. Itu adalah strategi umum yang sering dilakukan oleh seorang trader.

Trading Bukanlah Spekulasi

Saya tidak tahu bagaimana sikap anda.  Tapi, buat saya: Trading itu berbeda dengan spekulasi.  Perbedaannya terletak pada kedalaman analisis yang dilakukan ketika kita melakukan posisi.  Spekulasi identik dengan melakukan posisi yang untung-untungan, analisisnya hanya dangkal, atau sering kali tidak jelas landasan teorinya.  Disisi lain, ketika seorang pemodal melakukan posisi trading, maka semua sudah dilakukan berdasarkan kalkulasi yang matang.  Serta analisis dengan presisi prediksi dengan probabilitas yang terkontrol.  Dengan kata lain: Jika seseorang pemodal melakukan posisi beli/jual dengan probabilitas 60% – 80% untuk memperoleh keuntungan, itu disebut sebagai trading.  Sedangkan jika seseorang pemodal melakukan posisi beli/jual dengan probabilitas keuntungan yang tidak jelas atau tidak terkalkukasi, itu yang disebut sebagai spekulasi.

—–

Penutup

Kurangnya pemahaman mengenai perbedaan antara trading dan investasi inilah yang kemudian membuat banyak pemodal yang berguguran (rugi habis-habisan) selama koreksi market yang terjadi selama 2008 lalu.  Pemodal sering kali terjebak untuk menjadi seorang trader dadakan (rencananya investasi, tapi kemudian melakukan posisi trading dengan menggunakan account margin), atau menjadi investor dadakan (rencana awalnya menjadi seorang trader, tapi karena tidak disiplin dalam melakukan posisi cut loss, maka posisi tradingnya berubah menjadi posisi investasi). 

Fakta ini juga yang membuat saya selalu tergugah untuk menulis, menulis tentang pasar modal melalui berbagai channel. weblog yang saya fokuskan untuk membantu para trader dalam memahami pasar, terutama melalui kaca mata analisis teknikal. Harapan saya, semoga pasar modal kita bisa semakin kuat, dengan kualitas pemodal lokal yang semakin tangguh.  Agar pasar modal kita, tidak melulu dalam penguasaan pemodal asing, dan juga tidak melulu jatuh pada berbagai jebakan yang dipersiapkan oleh para Bandar Saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *