Saya itu manusia biasa. Sebagai manusia biasa, saya selalu sadar bahwa saya tidak mungkin 100% benar. Selalu saja ada kesalahan selama hidup.

Sebagai seorang trader, saya juga harus mengakui bahwa tidak 100% posisi beli yang saya lakukan, telah mendapatkan profit.  Terkadang, saya memang salah posisi sehingga saya harus melakukan posisi ‘cut loss’.

Itu semua adalah hal yang wajar.  Manusiawi.  Saya hanya berusaha agar:

  • sebagai seorang trader saham yang melakukan transaksi dengan berdasarkan analisis, saya berusaha agar, ‘salah prediksinya jangan sering-sering’,   Minimal, untuk trend jangka menengahnya, saya berusaha untuk selalu benar, karena itu akan menentukan posisi saya untung atau rugi.
  • sebagai trader, posisi profitnya harus lebih sering daripada posisi ‘cut loss’, dan posisi cut loss-nya kalau bisa.. kerugiannya lebih kecil daripada besaran yang kita dapat ketika kita untung.

Jadi kalau hari-hari ini ada orang-orang yang mengungkit-ungkit dosa lama saya, kesalahan prediksi saya, saya cuman bisa bilang: saya manusia, saya tidak bisa luput dari kesalahan. Saya bukanlah Nabi yang dijauhkan dari kesalahan.

7 Dosa Kesalahan Trader

Terkait dengan masalah ‘kesalahan’ ini saya jadi teringat konsep ‘Seven Deadly Sins of a Trader’ (and how to combat them), yang pernah saya baca dari buku Tools and Tactics for the Master Day Trader: Battle-Tested Techniques for Day, Swing, and Position Traders, sebuah karya dari Oliver Velez dan Greg Capra.  Buku ini adalah salah satu dari beberapa buku psikologi trading yang menjadi panduan saya.  Disebut sebagai ‘Deadly Sins’ karena jika kita melakukannya, maka kita sudah dipastikan akan mengalami kerugian yang sangat besar.  Kematian finansial.  Jika anda tidak ingin mengalami ‘kematian finansial’ (baca: kerugian), anda harus bisa menghindari untuk tidak melakukan hal-hal yang berikut ini:

  1. Fail to cut your losses short.  Terjemahannya.. kira-kira adalah: Gagal melakukan cut loss pada kerugian yang hanya sedikit.
  2. Dollar counting (berhitung keuntungan).
  3. Switching Time Frame (mengubah jangka waktu dalam posisi yang kita lakukan)
  4. Needing to know more (selalu berusaha mencari informasi tentang mengapa harga bergerak)
  5. Becoming too compacent (terlalu cepat puas)
  6. Winning the wrong way (memiliki sudut pandang yang salah mengenai arti dari ‘kemenangan’
  7. Rationalizing (selalu berusaha untuk bertransaksi dengan alasan-alasan yang rasional).

Penjelasannya seperti ini…

Pages: 1 2 3 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *