Pada beberapa kesempatan, saya sering menulis atau membuat statement bahwa Tugas dari seorang Trader saham itu sebenarnya cukup sederhana: Beli Ketika Mau Naik.. Jual Ketika Mau Turun.. Seperti apa sih ini sebenarnya?

Materi ini, sebenarnya sudah saya tulis dengan lebih lengkap di buku yang saya tulis, Candlestick Kontemporer yang bisa diperoleh di Tokopedia. Untuk tulisan mengenai Beli Ketika Mau Naik silakan dilihat pada tulisan berikut.

Menjelaskan dengan Model Pergerakan Harga

Munculnya berbebagai berita positif, telah membuat harga sebuah saham sudah bergerak dalam sebuah trend naik selama beberapa waktu. Ketika harga saham tersebut mulai mendekati area resisten, trend pergerakan harga yang semua berupa trend naik, kemudian berubah menjadi trend turun. Harga mengalami pembalikan arah trend atau trend reversal. Pada trend reversal ini, terdapat 4 titik dimana seorang trader bisa melakukan posisi jual.

Titik Trader Pemula

Titik Pertama (No. 1) adalah tempat dalam pergerakan harga dimana seorang Trader Pemula biasa melakukan posisi jual.  Seorang Trader Pemula ini biasanya adalah seseorang yang baru saja bertransaksi.  Setelah melakukan posisi beli, seorang Trader Pemula biasanya seperti memegang sebuah barang yang sangat panas, bingung mau ngapain, dan begitu posisi untung, kepinginnya cepet-cepet melakukan posisi jual.  Hasilnya: ketika harga bergerak naik sedikit saja, Trader Pemula ini sudah tidak sabar melakukan posisi jual.  Gak usah harga saham sampai ke titik resisten deh.. begitu harga bergerak naik mendekati titik resisten, Trader Pemula sudah tidak sabar melakukan posisi jual.  Jadilah Trader Pemula ini melakukan posisi jual ketika harga mendekati kisaran resisten.  Ejakulasi dini, itu memang sering terjadi pada seorang Trader Saham Pemula.

Titik Trader Teknikal

Titik Kedua (No. 2) adalah posisi daiam pergerakan harga dimana Trader yang sudah pernah belajar Analisis Teknikal (Trader Teknikal) melakukan posisi jual.  Jadi ceritanya begini: setelah bosan beli jual gak jelas sebagai seorang Trader Pemula, seorang Trader kemudian memutuskan untuk belajar Analisis Teknikal.  Setelah belajar Analisis Teknikal, Trader tersebut akhirnya tahu, bahwa posisi jual, itu dilakukan ketika harga sedang berada di titik atau area resisten.  Titik atau Area resisten ini adalah tempat atau kisaran harga dimana sebuah trend naik sering kali berubah menjadi trend turun.  Itu sebabnya, Trader Teknikal melakukan posisi jual ketika harga berada di area resisten.  Trader Teknikal menjual posisinya ketika harga berada di area resisten.

Titik Trader Tukang Tipu

Titik Ketiga (No. 3) adalah posisi dalam pergerakan harga dimana Trader Tukang Tipu biasanya mengambil posisi jual.  Ceritanya begini: Harga saham itu bergerak naik dan turun.  Salah satu profesi yang ada di dunia persahaman, adalah profesi yang disebut sebagai Tukang Tipu.  Tukang Tipu Saham ini adalah orang yang bikin seminar dimana-mana, sering kali juga kemudian dibarengi dengan menulis buku, dimana dia melakukan klaim, bahwa dia bisa memperoleh profit konsisten dengan cara ‘melakukan posisi beli di titik terendah dan melakukan posisi jual ketika harga berada di titik tertinggi’.  ‘Beli ketika Bottom, Jual ketika Peak’ adalah jargon yang sering didengungkan oleh Trader Tukang Tipu ini.  Supaya lebih misterius, Seminarnya biasanya juga dijual dengan harga mahal, dimana pesertanya juga biasanya bejibun.  Harap maklum: pasar modal itu kan penuh dengan orang yang merasa ‘punya duit’ tapi ‘kurang ilmu’, sehingga ‘ilmu’ mengenai kaya cepat di saham dengan beli di bottom dan jual di peak seperti ini, selalu banyak penuh dengan peminat yang bersedia membayar mahal.  Korban memang selalu berjatuhan. tapi, Tukang Tipu Saham selalu menjadi atraksi menarik, tidak hanya di Bursa Efek Indonesia, tapi juga di Bursa Efek Luar Negeri.  Titik Top atau Titik No. 3 adalah tempat dimana Tukang Tipu melakukan posisi jual. 

Titik Jual ketika Harga Mau Turun

Titik No. 4 adalah titik dimana seorang Trader melakukan posisi ‘Jual ketika harga mulai bergerak turun’.  Seorang Trader yang baik, selalu merasa bahwa dia tidak mungkin menebak atau memprediksi dimana Titik Tertinggi dan Titik Terendah dari pergerakan harga.  Seorang Trend Follower sejati, tahu, bahwa suatu harga tertinggi sudah menjadi titik Top, jika Titik Top tersebut sudah terlewati.   Dengan kata lain, titik jual dari seorang Trader, memang ketika titik puncak sudah terlewati, ketika trend naik sudah mulai berubah menjadi trend turun.  Oleh karena itu, Titik No. 4 adalah titik jual dari seorang trader yang dilakukan ketika trend pergerakan harga sudah mulai berubah mejadi trend turun.  Titik No. 4 adalah posisi jual dari Trader yang melakukan strategi Jual ketika Harga Mau Turun.

Penutup

Jual ketika harga tertinggi, itu bukan merupakan sesuatu yang penting.  Akan tetapi, melakukan posisi jual ketika harga mulai bergerak turun setelah titik puncak tercapai, adalah apa yang harus dilakukan oleh seorang Trader Saham.  Jadi.. seorang trader itu tidak harus melakukan posisi jual ketika harga berada di titik tertinggi. Seorang Trader Saham tidak harus buru-buru dalam melakukan posisi beli atau posisi jual.  Seorang Trader tidak perlu melakukan posisi jual ketika harga berada dalam posisi resisten.  Seorang Trade Saham hanya harus melakukan posisi jual, ketika harga terlihat memiliki peluang untuk melakukan potensi penurunanan.  Seorang Trader Saham harus bisa melakukan posisi Jual ketika Harga Mau Turun. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *