Penulis: Gembong Suwito ( Direktur Edukasi dan Investasi SAHAMOLOGY

Tanggal publish: Senin, 9 Januari 2023  

Investment Outlook  9-13 Januari 2023 . Apakah terjadi Januari Efek ditengah Outflow Investor Asing?? . Simak review dan prediksi IHSG, rekomendasi saham , Reksadana dan Obligasi.  

IHSG Review: Awal Tahun 2023 , Tekanan Jual Investor Asing masih cukup Besar    (capital outflow).  

Welcome 2023 , tahun 2023 akan menjadi tahun yang lebih menantang untuk pasar modal. Secara kinerja IHSG pada 2022 hanya bisa tumbuh 4.09% sedangkan indeks LQ45 dan IDX30 bahkan mengalami pertumbuhan yang negatif. Tahun 2022 dimulai dengan adanya perang Rusia -Ukraina pada 24 Februari 2022 hingga sekarang masih belum ada ujung kesepakatannya , perang tersebut membuat melambungnya harga energy seperti Minyak , gas dan batubara. Kenaikan harga komoditas menyebabkan harga barang naik yang efeknya adalah Tingkat Inflasi Naik. Bahkan tingkat inflasi di negara maju seperti Amerika Serikat mencapai 9,1% ( tertinggi selama 41 tahun terakhir) yang menyebabkan Bank Sentral (The FED) melakukan kebijakan Hawkish yang agresif menaikkan suku bunga acuannya dari 0.5%-0.75%  menjadi 4.25-4.5% pada akhir 2022. Pada tahun 2023 kebijakannnya The Fed diprediksikan akan tetap menaikkan suku bunga acuan 2x lagi pada Q1 2023 menjadi 5-5.25% sampai Inflasi turun dan terkendali.  

Ada 4 Headline penggerak market di 2023 :  

  • Perang melawan Inflasi dan Resesi : Target kebijakan bank sentral di negara-negara adalah menurunkan tingkat inflasi. Inflasi AS ditargetkan turun ke 3% pada 2023-2024,  Sedangkan solusi yang dilakukan negara adalah dengan agresif menaikkan Suku bunga acuan dengan harapan dapat menurunkan tingkat inflasi. Namun kebijakan suku bunga agresif dapat memicu perlambatan eknomi yang pada akhirnya menyebabkan resesi. Tanda-tanda resesi di AS yaitu terjadinya Inverted Yield Curve AS walaupun Q3 GDP AS rilis positif.    
     
  • Kebijakan Pivot The FED : Kenaikan suku bunga The Fed di Proyeksikan sisa 2x pada Q1 2023. The FED pada akhirnya akan melonggarkan alias menurunkan Suku bunganya , saat ini The Fed masih memperhatikan tingkat inflasi yang turun sesuai target mereka serta data tingkat pekerjaan di AS. Diperkirakan Q2 2023 The Fed mulai akan menurunkan suku bunga acuannnya.  
  • Re-Opening China  : Adjustment Kebijakan Zero Covid Policy akan membuat ekonomi China Struggle di semester I serta recovery di semester II. Isue utama China adalah meledaknya case Covid varian baru dan perlambatan ekonomi china.  
  • Pelemahan USD : Terjadinya Inflow ke negara-negara berkembang karena pertumbuhan perusahaan-perusahan Amerika serikat (AS) mengalami penurunan laba. Menurunnya USD dollar akan berimbas harga-Harga logam mulia (emas dan nikel akan moncer di 2023). 

Memulai 2023 pekan pertama  , Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) pada perdagangan hari jumat (6/1) ditutup berhasil rebound alias mengalami kenaikan sebesar 30 poin atau 0,46% dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,19 Triliun sedangkan market caps IHSG di 9287 Triliun. IHSG dibuka pada 6653 dan lansung mengalami penurunan dengan batas harga terendah sebesar 6598 , pada sesi kedua berhasil rebound alias naik ke harga tertinggi di 6708 sebelum ditutup pada 6684. Selama satu minggu kemarin IHSG mengalami penurunan yang besar yaitu -2,42% efek penjualan besar saham Bigbank oleh investor asing , sedangkan untuk Indeks LQ45 turun -2,58% dan Indeks IDX30 mengalami penurunan -2.70%.  

Beberapa Point utama yang terjadi pada minggu kemarin yaitu :  

  • The Fed Beri Sinyal Baru , Suku bunga AS masih akan Hawkish.  

Para Pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) , Federal Reserve (The Fed) kembali memberikan sinyal hawkish ( agresif) terkait dengan kebijakan moneternya. Para pejabat melihat tingkat suku bunga akan lebih tinggi untuk beberapa waktu kedepan guna untuk memerarangi inflasi sampai pada target yang ditentukan. Ini terlihat dalam risalah pertemuan The Federal Market Committee ( FOMC) Desember yang dirilis Rabu (1/6) waktu setempat. Pada pertemuan dimana pembuat kebijakan menaikkan suku bunga 50 basis atau 0,5% . peserta umumnya mengamatin bahwa sikap kebijakan yang membatasi perlu dipertahankan sampai data yang masuk memberikan keyakinan bahwa inflasi pada jalur perkelanjutan hingga 2%.    

Sejak awal tahun 2022 kenaikan Suku bunga BI dari 3.5% sekarang ke 5.5% pada desember 2022 alias sudah mengelami kenaikan 2%.  

  • Inflasi Desember 2022 terkendali dan diperkirakan kembali kedalam sasaran pada 2023

Perkembangan pada desember 2022 menunjukkan Inflasi pada Indeks Harga Konsumen ( IHK) terkendali. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) , Inflasi pada desember tercatat menjadi 0.66% MoM sehingga inflasi pada 2022 sebesar 5,1% YoY , meningkat dibandingkan inflasi 2021 sebesar 1,87% terjadi kenaikan +_3% terutama dipengaruhi oleh dampak penyesuaian harga bahan bakar Subsidi (BBM) pada september 2022. Berbagai perkembangan bulanan menunjukkan inflasi paska kenaikan harga BBM kembali tercermin pada ekspektasi inflasi dan tekanan inflasi yang terus menurun dan lebih rendah dari prakiraan awal.  

Sudah berjalan 1 minggu bulan Januari 2023,  IHSG masih minus 2,45% apakah akan terjadi januari efek tahun ini ? 

Awal januari masih masih penjualan oleh investor asing pada saham Bigbank sehingga kuncinya terjadinya januari efek adalah rebound bigbank dan terjadinya inflow investor asing kembali.  

Kinerja Sektoral IHSG Minggu Kemarin ( 2-6 Januari 2023 )  

No Sektoral Senin (2/1) Jumat (6/1) Perubahan % Perubahan 
IDXFinance 1.414,92 1.373,23 41,69 -2,95% 
IDXBasic 1.216,12 1.222,34 6,22 0,51% 
IDXEnergy 2.279,54 2.119,85 159,69 -7,01% 
IDXCyclic 850,90 822,22 28,68 -3,37% 
IDXNonCyclic 716,12 726,04 9,92 1,39% 
IDXHealth 1.564,97 1.541,57 23,40 -1,50% 
IDXProperty 711,24 688,85 22,39 -3,15% 
IDXTechno 5.162,04 5.100,90 61,14 -1,18% 
IDXInfra 868,64 848,42 20,22 -2,33% 
10 IDXTrans 1.661,93 1.621,00 40,93 -2,46% 
11 IDXIndustri 1.174,33 1.138,15 36,18 -3,08% 
IDX30 488,14  474,96  13,18 -2,70% 
LQ45 937,17  913,02  24,15 -2,58% 
IHSG 6.850,61  6.684,55  166,06 -2,42% 

Sumber: IDX  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan seminggu kemarin ditutup mengalami penurunan dalam  sebesar 166 point atau -2,42% sedangkan Indeks LQ45 turun -2,58% dan IDX30 mengalami penurunan terdalam di -2,70%. Hal ini dikarenakan saham bluechip penggerak Indeks seperti BBCA , BBRI , BMRI dan BBNI mengalami penurunan yang signifikan selama seminggu. 11 Sektor penyusun IHSG , 2 sektor yang mengalami kenaikan dipimpin oleh sektor konsumer primer ( IDX Non Cyclic) sebesar 1.39% dan sektor  bahan baku ( basic) yang juga naik 0.51% sedangkan 9 sektor dominan mengalami penurunan yang dipimpin oleh sektor energi sebesar -7,01% , sektor Finance atau keuangan yang turun -2,98% dan sektor konsumer non primer  yang turun -3.15%.   

Investor Asing 

Pola Pergerakan Investor Asing pada IHSG  

Investor asing masih secara dominan melakukan penjualan bersih (Net Sell) seperti bulan Desember 2022. Berdasarkan data RTI, investor asing (foreign) pada penutupan bursa hari Jumat (6/1) melakukan aksi penjualan bersih (Net sell) sebesar Rp 504 Milliar yang terdiri dari Penjualan   bersih ( Net sell ) Rp 418 M Milliar di pasar reguler dan penjualan bersih (Net Sell) sebesar 86 Milliar di Pasar Negosiasi dan Tunai. Selama seminggu kemarin Investor asing telah melakukan penjualan  bersih ( Net Sell )  sebesar Rp 1,69 Trilliun  di seluruh pasar dengan fokus penjualan saham Bigbank ( BBCA , BBRI, BMRI dan BBNI). Selama sebulan Investor asing  mengalami penjualan bersih   (net sell) sebesar Rp 11 Trilliun terutama di saham-saham Bluchips IHSG yang menyebabkan bulan desember pola window dressing ( bahwa tiap tahun dibulan desember ) IHSG akan ditutup positif tidak terjadi. Jadi 2022 terjadi anomali tidak ada window dressing yang baru selama 20 tahun terakhir.  

5 Saham yang Diakumulasi Asing Terbesar dalam Mingguan (Dibeli Asing)  

Sumber Data: RTI Business 

Saham yang selama seminggu ini paling banyak dibeli oleh investor asing yaitu saham Merdeka Copper Gold sebesar 161 Milliar , saham Aneka Tambang (ANTM) sebesar 77 Milliar , saham Bank Negara Indonesia (BBNI) sebesar 56 Milliar , saham United Tractor (UNTR) sebanyak 56 Milliar dan saham Indah Kiat Pulp& Paper sebesar 40 Miliar.  

5 Saham yang Distribusi Asing Terbesar Dalam Mingguan (Dijual Asing) 

Sumber Data: RTI Business 

Saham yang dijual/distribusi oleh investor asing terbanyak adalah saham saham perbankan dengan yang teratas dijual adalah bank central asia (BBCA) sebesar 638 Miliiar , saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 348 Milliar , saham Telkom Indonesia (TLKM) sebesar , saham astra internasional sebesar 122 Milliar dan saham indo tambangraya megah (ITMG) sebesar 57 Milliar.  

Invesment Outlook: IHSG Minggu Ini (9-13 Januari 2023) 

IHSG minggu ini akan mencoba teknikal rebound dengan target kenaikan ke 6850 dan 7000 ( level resisten kuat minggu ini ) , sedangkan supportnya masih di 6500 dan 6400 ( support kuat minggu ini ). secara outlook mingguan adalah positif. ( dengan syarat investor asing tidak besar keluar dananya). 

Data dan Sentimen Kuat Penggerak Market 

Data Global: 

Sumber: Investing.com 

Penggerak market pada minggu ini adalah testimoni The  Fed Char , data minyak dan data inflasi.  

Rekomendasi Saham  

Dengan dinamika flow asing , Saham-saham yang menarik untuk di koleksi minggu iini adalah berbasis logam yaitu emas dan nikel , sedangkan untuk BIgbank terutama BBCA dan BBRI masih waits and see menunggu adanya inflow masuk secara konsisten,  

  1. MDKA 

Produk utamanya adalah emas. Kenaikan harga spot emas menjadi 1866 serta kebutuhan safe heavent ( lindung nilai ) .  

MDKA pembelian secara bertahap di 4280 , 4200 dan 41000 dengan target harga 4500 dan 4600 ( model swingtrade dengan masa tunggu 1-2 bulan).  

  1. ANTM  

Produk : Emas dan Nikel  

ANTM secara fundamental menarik dengan kenaikan laporan keuangan yang signifikan , sentimen harga emas global yang naik , serta adalah story baterai listrik dan subsidi besar yang dilakukan oleh pemerintah ( sepeda motor dan mobil listrik)  

ANTM kita terus akumulasi di under 2000 , target ANTM kita adalah 2200 dan 2400.  

  1. BBCA 

BBCA rencana pembelian kembali di 8100-8300 secara bertahap , kami menyakini bahwa fundamental bbca cukup solid , untuk jangka pendek sebaiknya menunggu investor asing reda untuk jualan BBCA ( adanya inflow)  

  1. BBRI 

BBRI mirip dengan bbca kondisinya terjadi outflow investor asing , namun range 4500-4600 menarik untuk di akumulasi beli dengan TP 5000-5100 target swing sampai februari 2023  ( deviden tahunan karena pertumbuhan laba naik signifikan).  

Investment Outlook:  

Reksa DanaBerikut rincian pergerakan reksa dana indeks basis LQ45, IDX30, dan JII: 

Reksa Dana Indeks Basis LQ45 dan ETF LQ45  

Indeks LQ45 masih mencoba teknikal rebound minggu ini namun secara indikator teknikal  masih trend turun dengan target support di 900 dan 890 ( support kuat minggu ini ) , sedangkan resisten di 925 dan 930 ( resisten kuat minggu ini ) .  

Reksa Dana Indeks Basis IDX30 dan ETF IDX30 

IDX30 akan mirip pergerakan dengan IDX30 , tes supprt di 455 dan 440 ( suport kuat minggu ini ) , sedangkan batas resisten masih di 490 dan 510. 

Indeks Syariah/Jakarta Islamic Indeks (JII) 

JII juga masih tes suport di 560 dan 550 ( batas suport minggu ini ) , sedangkan resisten di 590 dan 600 ( resisten kuat minggu ini ) secara outlook masih konsolidasi  

Rekomendasi Reksa Dana 

Berikut ini merupakan produk reksa dana yang unggul atau memiliki kinerja lebih baik (aktif) dibandingkan dengan market (YtD). 

Reksa Dana Saham  

Kriteria seleksi berdasarkan parameter:  

  • Return 2022: Year To Date (YTD) di atas IHSG  
  • Asset Under Management (AUM): di atas 200 M  
  • Sharpe Ratio: Positif dan semakin tinggi semakin baik  
  • DrawDown (DD): 9-15%  
  • Top 20 Manajer Investasi (MI) sisi Dana Kelolaan  

Reksadana Saham 

Sumber: Indopremier per 8 Desember 2023 

Tahun 2023 merupakan tahun yang menantang untuk reksadana terutama basisnya saham , untuk saat ini kita masih melanjutkan view dan penempatan reksadana saham dengan style bluchips seperti diatas.   

Sektoral dan Top Holding Sahamnya Per Data FFS  

  • Panin Dana Teladan : Jenis reksa dana aktif  yang pengelolaannya akitf pada saham-saham Value investing dengan kombinasi bluechip. Kemarin group panin naik tinggi sehingga reksadana ini mengalami kenaikan yang signifikan. Contoh penempatan di Saham BBCA , BMRI , BBRI , BBNI , MDKA , TOWR 

Reksa Dana Campuran 

Kriteria seleksi berdasarkan parameter:  

  • Return 2022: Year To Date (YTD) di atas Infovesta Balance Fund Indeks  
  • Asset Under Management (AUM): di atas 100 M  
  • Sharpe Ratio: Positif dan semakin tinggi semakin baik  
  • DrawDown (DD): 7-12%  

Sumber: Indopremier 

Sektoral dan Top Holding Saham dan Obligasinya Per Data FFS  

  • Batavia Dana Dinamis: Alokasi kebijakan investasinya di pasar uang 11%, obligasi perusahaan sebesar 8%, obligasi pemerintah di 19,94% dan saham sebesar 61,03%.  

Top holding sahamnya: BBCA, ARTO, BMRI, BBRI, BTN, BBNI, TLKM.  

  • Schroder Dana Campuran: Portofolio aset alokasi di saham 57%, obligasi 39,58% dan cash sebesar 3% sedangkan untuk top holding perusahaannya adalah BBCA, BBRI, BBNI, TLKM , ASII. 

Reksa Dana Pendatapan Tetap  

Kriteria seleksi berdasarkan parameter:  

  • Return 2022: Year To Date (YTD) di atas Infovesta Fix Income Indeks  
  • Asset Under Management (AUM): di atas 100 M  
  • Sharpe Ratio: Positif dan semakin tinggi semakin baik  
  • DrawDown (DD): 4-6%  

Reksa dana pendapatan tetap dengan kinerja di atas rata-rata pendapatan tetap yang ada di market karena strategi investasi mereka adalah di obligasi swasta yang dominan diambil. 

Oleh karena itu, kinerjanya lebih bagus dan stabil. Contoh pada FFS di Succor Invest Stable Fund dan Equity Dana Pasti. Kita mulai masuk secara bertahap jenis reksadana pendatapan tetap dengan dominan di obligasi negara seperti ABF Indonesia Bond Indeks fund.  

Reksa Dana Pasar Uang  

Kriteria seleksi berdasarkan parameter:  

  • Return 2022: Year To Date (YTD)   
  • Asset Under Management (AUM): di atas 500 M  
  • DrawDown (DD): 0-0,5%  

Sumber: Indopremier 

Penempatan reksa dana pasar uang lebih dominan di obligasi jangka pendek dibandingkan dengan deposito dan penempatan deposito dengan rate bunga yang menarik yaitu ada di Bank buku 1-2 dan porsi obligasi swasta lebih banyak. 4 dari 5 reksadana pasar uang mengalami sharpe rasio yang negatif karena efek penurunan porsi obligasinya.  

Investment Outlook: Obligasi 

Obligasi Negara tipe FR yang menjadi acuannya adalah FR tenor 10 tahun: 

Sumber: CNBC 

Secara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun kembali ke 6.911% alias kembali ke yield wajarnya dengan harga 96,35. Penurunan obligasi negara dan reksadana pendatapan tetap berbasis obligasi negara sudah mulai berkurang. Kita mulai masuk secara bertahap untuk obligasi berbasis Negara.  

Untuk sementara P2P kita tidak rekomendasi sambil melihat perbaikan sistem dan perlindungan Investor untuk P2P.  

Disclaimer ON 

Sifat dari analisis ini adalah pandangan pribadi penulis berdasarkan pemahaman dan pengalaman , segala instrumen Investasi ada sisi risiko dan potensinya. Do Your Own Research (DYOR)! 

Untuk versi E-Book,silahkan download disini