Sejarah terulang kembali. Index alami halt perdagangan selama 30 menit setelah sentuh level penurunan -5% dalam sehari. Namun setelah sesi perdagangan berlanjut index kembali turun dan stagnan hingga penutupan. IHSG mulai roll back ke harga tahun 2015 saat krisis terjadi. Ditahan atau ditembus ?

Dengan penurunan -225 point kemarin, IHSG break down support 4330 dan ditutup di level 4105. Ada 378 saham yang alami penurunan dan hanya 46 naik. Artinya rasio saham naik dan turun 1 berbanding 8. Menjadi salah satu kondisi yang terburuk apalagi saat value transaksi hanya  5,17 trilyun rupiah. Kebijakan ARB maksimal -7% telah menyelamatkan IHSG dari penjualan besar besaran kemarin, karena beberapa saham yang sudah mentok cenderung minim transaksi.

Sejarah  Top 5 Market Mover IHSG Sentuh Batas Bawah

Sektor MISC-IND dan CONSUMER  menjadi dua yang paling tajam penurunannya : -6.07% dan – 5.95%. Saham saham unggulan berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak IHSG tak luput dari batas ARB. Bahkan Top 5 market mover pun cetak rekor bersamaan ARB : BBCA BBRI BMRI TLKM dan UNVR. Sesuatu yang amat jarang terjadi kecuali di era krisis. Tak heran hal ini membuat index saham likuid LQ45 turun lebih jauh dari composite hingga capai 6.63%.

Dalam kondisi perdagangan yang sepi tak surutkan minat asing untuk lakukan aksi jual. Angkanya pun mendekati 3x hari Rabu dan capai -604 milyar di pasar regular. Tak perlu heran bila BBCA sampai mentok di harga bid terendahnya karena asing membuang saham ini hingga -507 milyar. Disusul oleh BBRI -90 milyar, TLKM -73 milyar dan BMRI -34 milyar, ketiganya juga mentok di lowest bid pricenya. Asing hanya catatkan inflow di saham MDKA +95 milyar, MYOR +23 milyar dan UNTR +17 milyar namun tidak membuat harga sahamnya bergerak naik.

Rupiah Melemah dan Resiko Makin Meningkat

Kondisi global yang tidak menentu membuat safe haven currency USD menguat terhadap semua mata uang dunia. Bahkan Dollar Index sudah di level 102.940 naik +1.76%. Tak heran kalau USD terhadap rupiah di beberapa money changer dan e-banking sudah dipatok di level 16000 – 16200. Ini menjadi beban tambahan buat emiten yang terpapar dengan biaya dan utang valas. Selain itu BI yang pangkas suku bunga acuan 25 bps ke level 4,5% tidak mampu memberikan stimulus tambahan buat market, bahkan justru menekan nilai tukar. Angka resiko juga meningkat tajam terlihat dari naiknya Credit Default Swap (CDS) level 58 ke 268.

Stimulus dan Reboundnya Minyak Buat Bursa Positif

Dari market global : bursa di Eropa menanjak setelah ECB kucurkan dana masif pembelian surat utang untuk support likuiditas. Hal ini bantu pangkas bunga pinjaman Italy yang paling menderita karena COVID dari 2.5% menjadi 1.54%. Selain itu index STOXX 600 naik dekati +3% dan tutup di level 287.80.

Naiknya saham saham teknologi dan energi membuat DOW dan NASDAQ bisa bertahan di level hijau. DOW naik +188 point dan NASDAQ terapresiasi +2.3%. Ini membuat DJIA rebound dari level terendah selama 3 tahun untuk sementara waktu. Saham FB naik +4.2%, Netflix +5.3% dan Amazon juga tumbuh +2.8%. Naiknya harga minyak +23% atau USD 4.85 ke level USD 25.22 per barrel membuat harga produsen minyak US seperti Apache dan Diamondback Energy naik lebih dari +11%. Namun perlu dicatat bahwa dalam perdagangan after hour, future dari DOW terpangkas -367 point yang menjadi potensi koreksi untuk pembukaan malam nanti.

IHSG Roll Back ke Bottom 2015 : Klimak atau Anti Klimak ?

Hari ini akan jadi hari penentuan untuk IHSG. Apakah roll back dari index ke level harga yang sama saat bottom krisis 2015 akan ditahan atau ditembus. Sebagai catatan tahun 1 Oktober 2015 IHSG mencapai titik terendah intraday di level 4033.59. Pasca level tersebut index terus rally hingga terhenti di level 6693. Penguatan IHSG lebih dari 2660 point membawa index tumbuh 65.95% dari Oktober 2015 sampai Februari 2018.  Namun pasca Februari hingga 27 Feb 2020 index alami sideways dan terkonfirmasi downtrend saat terjadi koreksi masif hingga sekarang.

 Level 4033 akan teruji hari ini apakah akan menjadi terminal penentuan atau IHSG akan roll back kembali ke harga tahun 2013 saat sentuh support 3841. Belum adanya signal positif dari indikator cepat tandakan potensi support 4033 akan disentuh apalagi sekarang hanya berjarak 72 point dari level penutupan sore kemarin. Artinya dengan penurunan -1.8% support akan dengan mudah disentuh.

Support dan Resisten untuk hari ini : 3940 – 4260

Tone dan Manner IHSG :  IHSG Roll Back Dekati Bottom Saat Krisis 2015. Ditahan atau Ditembus ?

Potensi Pergerakan :  3940 – 4260

******

Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan harga ideal adalah membeli saham saat hendak naik. Caranya gimana ? Idealnya adalah saat saham sudah membentuk bottom.

Kapan ? Kondisi sekarang ini adalah kondisi yang mendekati ideal dengan catatan IHSG membentuk bottomnya sebagai akhir penurunan https://sahamology.id/beli-saham-ketika-harga-mau-naik/

*******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *