Ketika kita melakukan trading saham.  Harga adalah komponen yang sangat penting.  Ini karena harga menentukan benar – salah, menang – kalah, dan untung – rugi.  Fakta yang harus selalu kita ingat adalah sebagai berikut:

Harga saham hanya bergerak naik jika ada orang yang mau membeli.

Artinya.. jika ada seseorang atau sekelompok orang yang memiliki daya beli, tertarik kepada sebuah saham, dan kemudian membelinya.  Maka harga akan bergerak naik.

Jika tidak ada pembeli, maka harga saham akan turun karena bobotnya sendiri.

Artinya.. saham itu bukanlah kebutuhan pokok.  Investasi adalah kebutuhan tersier, kebutuhan mewah, Hanya orang punya duit lebih yang bisa berinvestasi. Orang pasti masih banyak kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, atau kebutuhan tersier yang lain.  Ini membuat orang akan cenderung untuk menjual saham untuk memenuhi kebutuhannya yang lain. Misalnya niy… orang punya saham TLKM dalam rekening online tradingnya. Duit di dompet, hanya cukup untuk makan 2 hari. Apakah dia akan ‘memakan’ saham TLKM yang ada di rekeningnya tersebut? Gak bisa kan? Langkah rational yang dilakukannya adalah menjual saham TLKM yang dimiliki, dan kemudian setelah terima duitnya 2 hari kemudian, dia membeli makanan. Orang tidak bisa membeli makanan dengan saham. Saham harus dikonversikan dulu menjadi uang melalui posisi jual, baru kemudian uang yang didapat ditukar dengan makanan.

So..

  • Jika sekelompok orang bergerombol, berkerumum, membicarakan sebuah saham (saham apapun nih..), dan kemudian membelinya baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok, jangan heran kalau harganya naik.
  • Akan tetapi, kontinuitas keberadaan pembeli, hanya ada pada saham-saham yang disukai oleh pasar.  Pasar ini diwakili oleh jumlah dari para analis yang menganalisis saham itu.  Karena para analis ini, cenderung akan mampu membawa volume pembeli yang konstan terhadap pergerakan harga.
  • Pada saham-saham yang tidak dianalisis oleh banyak analis, harga cenderung akan bergerak naik, ketika orang suka.  Tapi ketika sudah ditinggalkan? hm… Saya kira bursa kita masih meninggalkan banyak sekali ‘Monumen-monumen’ berupa saham-saham gorengan yang berada di harga gocap (Rp 50), level harga ARB, (Auto Reject Bawah tentu saja, bukan Abu Rizal Bakrie),  yang sudah ditinggalkan oleh pemainnya. .

Berhati-hatilah dalam memilih saham.  Jika anda memilih untuk masuk ke saham yang pemainnya bukan ‘pasar murni’.  Selalu waspada.  Jangan sampai anda ketinggalan kereta dan menjadi ‘nyangkuters’ seumur trading.

Satrio Utomo untuk Sahamology.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *