Kabar tak sedap muncul pagi ini. Harga minyak mentah anjlok sampai -30% dan dekati level harga USD 30 per barrel. Ini akan menambah tekanan kepada market yang sudah terhantam oleh COVID19. IHSG yang selama sepekan naik turun dengan volatilitas yang tinggi sepertinya belum tuntas dramanya. Beruntung pekan lalu index masih ditutup naik +0.8% namun sisakan long candle pada bagian atasnya. Hal ini tandakan tekanan jual masih belum mereda.

Perdagangan Jumat menjadi pukulan tambahan saat index kembali turun -2.47% saat 283 saham terkoreksi. Tidak ada sektor yang menguat dan semuanya terperosok. MISC-IND yang didominasi oleh ASII menjadi sektor yang paling terkoreksi -4.96% disusul oleh FINANCE -3.06%. Index pun kembali di bawah level 5500 dan tutup di harga 5498 setelah anjlok -139 point. Selain ASII yang turun -6.19% saham saham bank besar juga tambah tekanan ke IHSG. Apalagi setelah BBCA -3.65% BBRI -3.37%, BMRI -4.60% dan BBNI paling terperosok -6.19%. Dari 10 saham unggulan hanya UNVR saja yang menguat sendirian +0.67%.

Tekanan Jual Asing Lebih dari -1.7 Trilyun di Saham Unggulan

Tekanan jual asing makin menjadi jadi. Di dua pasar yang ada, investor melakukan net sell lebih dari -1.3 Trilyun. Tingginya outflow ini disebabkan ada transaksi jumbo net sell -832 milyar hasil penjualan saham semen INTP. Hal ini membuat BASIC-IND menjadi yang paling tinggi outflownya hingga -846 milyar disusul oleh FINANCE -383 milyar. Anjloknya BBRI BBCA BBNI dan ASII tidak terlepas juga dari aksi jual asing di saham saham tersebut. BBRI -208 milyar, BBCA -156 milyar, BBNI -49 milyar dan ASII -38 milyar.

Sepanjang sepekan lalu tekanan jual asing terhadap saham saham unggulan sangat besar. Seminggu saja BBNI dibuang -273 milyar, BBRI -247 milyar dan BBCA -215 milyar. ASII dan BBRI juga sama alami nasih seperti 3 rekannya. ASII -109 milyar dan BBRI -85 milyar Dari 6 saham ini ditambah INTP maka total net sell nya capai -1.7 trilyun. Bandingkan dengan nilai net buy yang super mini selama periode 3-6 Maret 2020 : INKP yang paling tinggi hanya +95 milyar dan disusul ICBP +59 milyar. Saham lainnya seperti BTPS MDKA PTBA pun paling tinggi hanya +40 milyar saja. Hal ini tandakan bahwa masih ada dorongan keluar untuk amankan posisi terlebih dahulu menunggu moment yang tepat untuk come back.

Harga Minyak Anjlok Bikin S&P Meradang Malam Ini

Bursa global pun masih merasakan demam COVID19. Apalagi penyebaran sekarang bergeser ke wilayah wilayah Eropa Barat dan Amerika Serikat. Italy telah mengunci sebagian besar propinsinya yang batasi gerak lebih dari 16 juta penduduk. Saat ini negara anggur ini sudah menjadi yang terbesar kedua penyebarannya setelah China sebanyak 7375 disusul oleh Korea Selatan 7314 dan Iran 6566. Jumlah pasien positif di Perancis dan Jerman juga sudah lampaui 1000 sedangkan di Amerika melebihi 500 orang.

Wall Street masih meradang saat 3 index masih ditutup merah di akhir pekan. Walaupun sempat anjlok -894 poin di awal pembukaan Jumat, DJIA bisa merayap naik dan hanya tutup -256 poin. Saat yang sama S&P turun -1.7% dan NASDAQ -1.8%. Market bergeser ke instrumen yang aman seperti surat hutang dan bawa yield turun dibawah 0.7%. Emas pun kebanjiran permintaan dan harganya semakin mendekati level USD 1700 per ounce naik lebih dari + 100 dollar dalam sepekan terakhir.

Masalah baru timbul di pasar komoditas. Minyak anjlok nyaris -30% sepanjang sepekan setelah Rusia tidak setujui rencana pemangkasan kuota OPEC -1.5 juta barrel per hari. Arab Saudi langsung bertindak dengan pangkas harga jual produk USD  6 – 7 dollar per barrel untuk konsumen China. Selain itu Arab juga berencana tambah output 2 juta barrel per hari dan memicu perang harga untuk meraih pasar lebih banyak. Harga minyak diproyeksikan bisa menuju USD 20 per barrel tahun ini. Turunnya harga minyak dibawah level USD 20 akan membuat produsen minyak Amerika akan terpuruk khususnya yang andalkan shale oil.  Ini akan tambah beban market US setelah perbankan terperosok dan airliner terjungkal akibat COVID19

IHSG Makin Menjauh dari Resisten EMA7 nya

Hari ini market kembali akan alami tekanan. Walaupun Indonesia bukan eksportir minyak namun beberapa saham seperti MEDC dan ELSA bisa alami koreksi lanjutan. Turunnya harga minyak dunia otomatis akan buat harga minyak acuan Indonesia (ICP) terkoreksi. Blessing in disguisenya akan ada peluang penurunan harga bensin Pertamina bila harga semakin tertekan. Jumat lalu sebenarnya ada beberapa saham yang layak untuk masuk watchlist seperti BTPS TPIA RALS MDLN BNLI DEAL SQMI. Namun dengan perkembangan terbaru dari Timur Tengah yang dorong index Tadawul Saudi turun -8% membuat harus ekstra hati hati. Apalagi market global diproyeksikan akan turun lebih dari -3% di pembukaan nanti malam.

Index diproyeksikan akan uji level support 5378 dan bentuk new low. Indikator stochastic mulai gagal break area 50 dan potensi dead cross. Sedangkan MACD mulai ke arah negatif dan makin menjauh dari potensi golden cross nya. Candle juga makin menjauh dari resisten EMA7.

Tone dan Manner IHSG :  Harga Minyak Anjlok Tambah Tekanan Bursa Setelah COVID19

Potensi Pergerakan :  5378 – 5578

Setelah hadir selama 2 tahun lebih akhirnya TETRA X CHANGE akan mengalami make over. Perombakan total aplikasinya termasuk penggantian nama menjadi TETRA SAHAM.

Sebelum perubahan dilakukan dan aplikasi baru di-upload ke Playstore dan Appstore, maka TETRA akan berikan promo diskon terakhir 70% untuk semua paket PRIME.  Nantinya TETRA SAHAM tidak akan pernah lagi memberikan diskon  seperti halnya TETRA X CHANGE sekarang.

Untuk pengguna PRIME pada TETRA X CHANGE dan masih memiliki masa aktif akan tetap bisa menikmati TETRA SAHAM.

Dapatkan diskonnya di http://promo.tetraxchange.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *