Bullish market itu memang nikmat. Memabukkan.  Harga bergerak naik, banyak orang yang untung, banyak orang yang bergembira. Investasi atau trading, tidak ada bedanya. Saham blue chip atau bukan; lapis pertama, kedua, atau ketiga; saham fundamental atau non-fundamental, seakan tidak ada bedanya. Pemodal melakukan posisi beli atau jual. Beli, beli, dan beli. Dan ketika harga kemudian bergerak turun setelah pemodal tersebut membeli, maka dengan ringannya pemodal itu berkata: tahan aja deh, nanti kan juga naik lagi. Langkah yang sebenarnya adalah sebuah perlambang dari ketidakdisiplinan ini, sering kali malah berbuah manis. Ketika orang-orang yang disiplin cut loss terpaksa menelan kerugiannya, orang-orang yang tidak disiplin ini malah bisa meraup untung karena tak lama kemudian, harga kembali ke atas harga belinya. Beruntung. Bullish market memang tempat dimana orang yang beruntung bisa memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan orang yang berusaha untuk melakukan langkah yang smart.

Ketika market bullish, pemodal sering kali menurunkan kewaspadaannya. Transaksi tanpa trading plan, transaksi diluar saham-saham yang ada pada trading plan, transaksi margin, transaksi overlimit, transaksi berdasarkan info-info asal yang gak jelas juntrungannya, bahkan hingga melakukan transaksi dengan menggantungkan resikonya kepada orang lain (berdasarkan petunjuk dari orang lain).  ‘Terserah elu aja deh beli apa, saya ikutan’, atau ‘terserah rumornya apa deh… saya mau ikutan’. Padahal sebenarnya, kemampuannya untuk memprediksi sendiri sebenarnya juga sudah cukup bagus. Tapi karena marketnya adalah market yang didrive oleh sentimen (dan pemodal ini juga tidak mau ketinggalan), akhirnya dia memutuskan untuk trading hanya berdasarkan ‘info’. Orang bilang: Lupakan kolesterol deh… semakin digoreng, itu yang paling enak. Kalau perlu, memanfaatkan daftar UMA (saham yang masuk pengawasan BEI karena terjadinya pergerakan yang tidak biasa) dari BEI sebagai radar untuk mencari saham yang ‘baru bergerak’, memanfaatkan UMA sebagai signal beli. Saham yang dulu dicaci maki karena sudah menimbulkan banyak sekali pemodal bangkrut, malah diburu. Orang seakan melupakan ‘dosa masa lampau’. Yang penting untung, begitu katanya.

Satu hal yang selalu saya ingat dalam 20 tahun karir saya di pasar modal adalah: harga tidak selamanya bergerak naik. Ada suatu masa dimana orang diberi peringatan. Peringatan ini berupa koreksi-koreksi kecil. Koreksi 10% – 20% dari IHSG, itu masih biasa. Koreksi-koreksi ini sebenarnya adalah pengingat bagi mereka yang lupa, pengingat bagi mereka yang terbuai. Hantamannya sih tidak telak. Bagi orang yang belum menggunakan fasilitas margin, atau bisa jadi mengunakan fasilitas margin tapi baru sedikit, biasanya koreksi ini hanya akan membuat mereka terdiam karena nyangkut. Tapi, kalau untuk orang-orang yang sudah benar-benar lupa diri, orang-orang dengan posisi margin penuh dengan rasio diatas 50% ketika trend turun baru mulai berlangsung, hantamannya memang bisa jadi cukup telak.   Bisa jadi mereka terpaksa melakukan injeksi dana jika tidak kepingin posisinya kena forced sell.

Koreksi kecil sebesar 10% – 20% adalah sebuah koreksi yang wajar.  Sekedar mengingatkan bahwa harga bisa saja bergerak turun.  Atau sebagai pengingat juga: jika misalnya market crash, terkoreksi 30%, 50% atau lebih, apakah anda sudah siap?  Apakah anda sudah menerapkan strategi yang benar?  Apakah anda sudah trading dengan bertanggung jawab?  Koreksi kecil seperti ini, hanya membuat anda sedikit terbangun dari buaian anda.

Checklist ketika ‘bangun dari Mabok Bull Market’

Apa yang anda lakukan ketika anda bangun dari tidur?  Bangun tidur ku terus mandi? Bangun tidur ku terus bersyukur?  Yang sering sih, setelah bangun, kita melakukan reality check dulu.  Eh… Gua lagi dimana nih? Sekarang jam berapa? Habis ini gua ngapain ya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang biasanya pertama kali muncul sebelum kita memulai rutinitas kita.

Ketika trading, sebaiknya anda juga melakukan hal yang sama.  Ketika trend berubah menjadi turun seperti ini, ada beberapa hal standar yang sebaiknya menjadi pengingat

  • Sudahkah anda mengetahui perbedaan antara trading dan investasi?
  • Apakah anda sudah memilih salah satu diantaranya?
  • Saham apa saja yang berada di dalam portfolio anda?
  • Masih ingatkah anda, mengapa anda membeli saham tersebut?  Masihkah anda merasa bahwa alasan tersebut masuk di akal? Atau anda sekarang sudah memiliki cerita yang baru?
  • Sudahkah anda memiliki portfolio seperti yang anda rencanakan?
  • Bagaimana kualitas prediksi anda?
  • Bagaimana kualitas dari positioning anda?
  • Apakah anda sedang dalam posisi untung atau rugi?
  • Sudahkah anda tahu penyebabnya mengapa anda mengalami keuntungan atau kerugian?

Intinya adalah: koreksi seperti sekarang ini, adalah saat bagi kita untuk melakukan refleksi.  Kita mencoba bercermin untuk melihat, apa yang sudah saya kita lakukan.  Kalau sudah benar berarti tinggal diteruskan.  Kalau memang masih ada yang salah, ya berarti memang masih harus diperbaiki.

Penutup

Bullish market itu memang tempatnya orang lupa.  Akhir dari bullish market adalah tempat bagi orang untuk waspada, karena nasib anda di akhir dari bearish market, akan ditentukan oleh bagaimana reaksi anda ketika trend naik sedang berakhir.  Jika anda melihat bahwa koreksi ini hanya konsolidasi sementara, maka anda bisa memanfaatkan koreksi ini sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.  Akan tetapi, kalau koreksi ini ternyata adalah awal dari sebuah trend turun jangka panjang, berarti anda memang harus mempersiapkan ‘langkah-langkah yang diangap perlu’ untuk mengamankan ekuitas anda.

Dari 20 tahun lebih pengalaman saya di pasar modal, saya sudah sangat sering melihat pemodal yang jatuh (rugi habis-habisan) hanya karena hal-hal yang sepele.  Hal-hal yang sederhana seperti:

  • Tidak tahu perbedaan antara trading dengan investasi
  • Overtrading (bertransaksi diluar batas kemampuannya)
  • Melakukan transaksi dengan tidak ada tujuan yang jelas
  • Transaksi bukan berdasarkan pada prediksi sendiri
  • Dan masih banyak lagi.

Saya tidak akan bosan untuk terus mengingatkan kepada anda akan hal-hal yang seperti ini, karena pemodal, sering kali melupakannya ketika market sedang berada dalam trend bullish.  Cape bo.. lihat orang bertransaksi dengan melupakan betapa susahnya dia memperoleh apa yang sudah dimilikinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *