Turun lebih dari -10% sepanjang sepekan index akhirnya alami kenaikan tipis pada perdagangan hari Jumat lalu. Pertanyaan baru muncul di kalangan pelaku pasar apakah market kita sudah mencapai bottom 4639 dan ini adalah tanda akan terjadi reversal ?

Index yang bergerak liar pada hari Jumat ditutup di zona hijau. Market sempat sentuh batas bawah -5% sebelum alami halt selama 30 menit. Namun setelah jeda makan siang index melakukan rebound seiring dengan perbaikan sentimen global dimana pasar Wall Street dibuka positif. Beberapa saham pun mulai tunjukkan taji dan menguat terbatas namun sudah menolak turun lebih dalam.  Indexpun ditutup naik tipis +11 point atau +0.24% ke level 4907.

Ada 132 saham yang naik dan 282 saham yang masih turun tandakan market masih mixed sikapi perkembangan yang terjadi. 5 sektor melemah dan 4 sektor menguat dengan IFRA dan FINANCE menjadi motor memantulnya IHSG. Namun disisi lain BASIC-IND masih tertekan hingga -3.44%  bersama dengan AGRI -2.08%. Naiknya 6 saham market mover seperti BBRI UNVR TLKM IBCP dan BBNI mampu redam penurunan dari TPIS HMSP dan BMRI sehingga bawa Compositie tutup hijau.

Investor Asing Manfaatkan Rebound Untuk Cetak Net Sell -581 Milyar

Namun seperti biasa saat index alami rebound justru menjadi moment bagi investor asing buat check out. Saat sektor FINANCE naik +1.0% justru terjadi outflow -351 milyar. Begitu juga pada sektor CONSUMER dan INFRA. Naik +0.7% net sell -194 milyar dan tumbuh +1.4% outflow -16 milyar. Selain ROTI yang alami net sell -149 milyar, 4 saham perbankan besar juga jadi sasaran outflow. BBRI -147 milyar, BMRI -116 milyar, BBCA -71 milyar dan BBNI -45 milyar. Aksi beli terbatas di pasar regular hanya terjadi di saham seperti MDKA UNVR SMGR AKRA itupun dengan jumlah bervariasi antara +12 milyar hingga +20 milyar.

Masih tingginya aksi jual asing tandakan mereka masih ekstra hati hati sikapi perkembangan market. Mungkin secara jangka panjang masih akan terus ikuti protokol investasi dari kantor pusatnya. Namun secara peluang jangka pendek bisa lakukan beberapa aksi beli dan jual untuk jaga portofolio tetap positif di market yang bearish. Apalagi aksi beberapa BUMN yang lakukan buyback hingga bulan Juni 2020 menjadi peluang untuk bisa rearrange porto saat market mulai membaik. Tujuannya untuk restart kembali investasi seperti di 2008-2009.

Stimulus dan Pemangkasan Bunga Jadi Andalan Amerika Hadang Krisis

Amerika secara resmi nyatakan Darurat Nasional. Paket relief USD 50 billion sudah disahkan secara bipartisan oleh Congress dan White House. Sikapi hal ini market pun melonjak naik di perdagangan hari Jumat. 3 index utama Wall Street naik lebih dari +9%. DOW meroket +1985 point, S&P yang kembali ke level 2700 naik +9.29% dan NASDAQ tumbuh +673 point di saat yang sama. Volatility index pun terpangkas -23% menjadi 57.83 tandakan market mulai merespond positif stimulus yang diberikan.

The FED dalam pengumuman mendadak memangkas suku bunga acuan 100 bps atau 1%. Hal ini membuat target rate saat ini 0% -0.25%.  Selain itu The FED juga memangkas bunga pinjaman darurat bank 125 bs menjadi 0.25% dan ulur tenornya menjadi 90 hari. Namun the FED tidak membawa rate ke zona negatif seperti yang sering dilakukan oleh otoritas bank sentral  di Jepang ataupun Europe. Sebagai gantinya The FED luncurkan program pembelian obligasi yang sering disebut sebagai QE/Quantitative Easing sebesar USD 700 milyar. Namun pembelian assets ini hanya dibatasi pada pembelian surat utang negara (treasury) dan surat berharga yang dibackup oleh aset KPR saja. QE program tidak akan melakuan pembelian pada obligasi perusahaan dan saham di Wall Street. Karena 2 hal ini harus ada persetujuan dari Congress.

Kasus COVID Masih Meledak Secara Global

Belum redanya kasus COVID19 secara global membuat market masih maju mundur. Saat ini baru impact kematian saja yang dirasakan selain terhambatnya pergerakan manusia di dunia. Banyak negara yang mulai melakukan lockdown dan kurangi influx warga negara lain. Yang terbaru Singapore membatasi WNI yang travel sementara di negara pulau tersebut. WNI harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dan kemudian melakukan isolasi selama 14 hari di hotel ataupun rumah tujuan.

Jumlah kasus juga sudah melampaui 169ribu dengan jumlah kasus di luar China sudah lampaui negara asalnya. Italy saat ini menjadi episentrum dengan jumlah kasus aktif 2x China dan jumlah korban meninggal 2/3 dari China. Di Indonesia sendiri ada 117 kasus positif dimana 5 telah meninggal dan 8 orang telah sembuh. Pertumbuhan kasus yang pesat di Italy dan Spanyol makin membuat European Zone undersiege. Spanyol mulai melakukan lockdown. Jerman mulai batasi ruang gerak di perbatasan. Sekolah sekolah mulai di liburkan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Masih belum redanya penyebaran COVID19 ini menyisakan pertanyaan : “Inikah awal dari Resesi Ekonomi Global yang lebih buruk dari krisis finansial 2008 ?”

Apakah Market Sudah Mencapai Bottom ?

Banyak yang berharap bahwa market sudah mencapai bottom di hari Jumat. Support 4639 terbentuk. Namun melihat perkembangan terbaru termasuk pemangkasan suku bunga the FED dan masih parahnya tingkat infeksi di Eropa membuat sedikit pesimistis. Walaupun indikator stochastic ada tanda bull taking over namun MACD histogram tetap negatif. Ini tandakan masih mixednya sentimen pelaku pasar.

Masih adanya debat soal lockdown dan pembatasan gerak manusia dalam periode darurat ini membuat opini masyarakat terpecah. Ada yang khawatir bila lockdown dilakukan di Indonesia akan perparah ekonomi, namun bila tidak dilakukan sistem kesehatan termasuk ketersediaan fasilitas rumah sakit tidak akan mampu tampung para korban.

Bentukan candle pin head dengan long shadow sebenarnya dalam kondisi normal bisa menjadi tanda rebound hingga reversal. Namun hal ini perlu dikonfirmasi dalam sepekan apakah index akan membentuk new low atau new high dari candle hari Jumat lalu. Selain itu bila stoch kembali memantul dari area 20 maka potensi 4639nya bisa dibreak pekan ini.

Index mungkin diawal akan terjadi overpsikologi terkena sentimen penutupan Wall Street namun akan melandai setelah reality check bahwa kasus di Indonesia masih terus melebar dan punya impact pada ekonomi jangka menengah. Selain itu memantau perkembang dari pembukaan Wall Street malam ini dari DOW FUTURE Index.

Support dan Resisten untuk hari ini 4639 – 5024.

Tone dan Manner IHSG :  Apakah Market Lokal (dan Global)  Sudah Capai Bottom di Hari Jumat ?

Potensi Pergerakan :  4639 -5024

******

Mau tahu tanda tanda krisis sudah mulai berakhir dan market potensi untuk berbalik arah ?  Cek di artikel ini  https://sahamology.id/psikologi-pasar-ketika-market-bottom/

*******

Untuk memberikan kemudahan pembelajaran kepada semua investor dan trader saham. Dalam moment market bearish dan imbauan utk tetap di rumah selama penyebaran COVID19, kami akan berikan program baru.

Semua paket pembelajaran online Sahamology kami berikan diskon 50%.

Harga lama utk buku dan video tutorial yang awalnya 499,000 kami turunkan menjadi 249,000

Dapatkan melalui Offical Store kami di Tokopedia http://tokopedia.com/bukusaham

*******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *