Kalau mau belajar tentang saham maka mau tidak mau kita harus mengenal yang disebut DOW THEORY yang dituliskan oleh Charles Dow, bapak pasar saham modern. Dalam salah satu dari 6 asumsi dasar Pasar Saham menurut DOW bahwa pendekatan analisa saham modern mengacu pada prinsip bahwa harga yang terbentuk oleh pasar telah mencerminkan semua informasi , berita, psikologi, rumor dan kondisi sosial politik yang berlaku, Informasi bisa berasal dari kondisi ekonomi makro, hal hal yang menjadi pengetahuan umum dan belum diketahui oleh publik, kebijakan kebijakan pemerintah maupun informasi detail tentang emiten.

Psikologi bisa bersumber dari harapan, ketamakan, kepanikan, dan ketakutan pelaku pasar terhadap perkembangan market; baik yang memiliki impact positif maupun negatif. Berita dan gosip yang beredar terkait rencana aksi perusahaan (misalkan rencana akuisisi, merger, pembagian laba, perusahaan merugi) juga terefleksikan dalam harga yang terbentuk di market.

Oleh karena itu sebagai trader di pasar saham ada baiknya tidak banyak bertanya mengenai

“Kenapa harga saham ini turun ?”.. atau

“kenapa harga saham ini naik terus tanpa henti??” apa penyebabnya??…

Ada kondisi dimana sebuah saham naik terus menerus dan membentuk pola uptrend. Misalkan SMCB dari level harga 500 ke 1000 di bulan Juli – Agustus 2018. Naik 100% dan orang bertanya “kenapa SMCB naik terus?? ada apa?”..

Pola kenaikan saham SMCB Oktober-November 2018

Harga saham terus naik hingga Oktober – November 2018 dan akhirnya di bulan November baru muncul berita bahwa SMCB diakuisisi oleh Semen Indonesia, Pada saat berita itu keluar harga saham sudah berada di level 1900 dan sudah naik lebih dari 3x lipat sejak bulan Juli 2018 di kisaran 500.

Source : CNN Indonesia

Biasanya setelah berita baiknya keluar maka harga cenderung tidak mengalami kenaikan yang signifikan kembali dan cenderung stabil. Setelah berita akuisisi harga SMCB hanya mencapai level tertinggi 2100 atau hanya naik 200 di level sebelum berita diumunkan dan sekarang harga saham cenderung lebih rendah.

Bertolak belakang dengan kondisi saham diatas,

ERAA

Ketika kondisi saham terus turun seperti ERAA, “kenapa ERAA bisa mengalami penurunan seperti ini??..

Ternyata penyebab penurunan adalah catatan laba yang lebih buruk atau turun sehingga mengakibatkan beberapa investor menjual saham nya secara massive.

Ketika berita keluar baru mereka terkaget kaget dan melakukan aksi jual untuk cut loss. namun itu sudah boleh dibilang terlambat karena secara teknikal market sudah memberitahu lebih dahulu jauh jauh hari bahwa saham ini DOWNTREND sehingga tidak layak untuk dihold dalam jangka menengah/pendek.

Bila sebuah saham cenderung turun dan berita buruknya sudah keluar maka dapat dikatakan peluang penurunannya sudah selesai. Intinya adalah kita lebih baik melihat respod dari market ketimbang mencari cari tehu kenapa terjadi perubahan harga tadi. Karena bila kita hendak mencari cari tahu maka yang dilakukan adalah bukan ANALISA tapi INVESTIGASI BERITA.

Artikel ini ditulis oleh Luke Syamlan

Artikel ini pernah ditulis pada situs TETRA X CHANGE pada url https://tetraxchange.id/2019/07/market-discount-everything/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *