Banyak Saham Sudah Ultra Low Valuation

Tekanan jual terhadap sektor FINANCE tidak halangi IHSG untuk naik kemarin +0.83% terimbas optimisme global terhadap komitmen the FED membuat ekonomi USA afloat. Dukungan penguatan sektor BASIC-IND dan INFRASTRUCTURE dorong IHSG sedikit berada diatas level support EMA-7 nya. Hari ini ada potensi overpsikologis ditopang oleh 3 katalis. 2 berasal dari Global : The FED commitment dan laporan efektivitas Remdesivir sebagai obat COVID19. 1 berasal dari dalam negeri : BI lakukan quantitative easing untuk amankan moneter.

Last Punch For the Banks ? S&P Ubah Outlook 3 Bank BUMN Jadi Negatif

Akhirnya berita buruk yang membuat saham saham bank dibuang secara masif oleh asing keluar. S&P turunkan outlook rating 3 bank BUMN yaitu BBRI BMRI dan BBMI dari Stabil menjadi Negatif. Hal ini sejalan dengan penurunan outlook Indonesia menjadi Negatif.  Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru karena dalam kondisi pandemi seperti sekarang risiko ekonomi dan perbankan Indonesia juga akan terpengaruh.

Namun perlu disadari bahwa yang diturunkan adalah outlooknya saja dari Stabil ke Negatif, sedangkan rating utama tetap BBB- . Hal ini didukung  pertimbanga bahwa ketiga bank tersebut memiliki posisi pasar yang kuat, modal yang sehat dan  profitabilitas yang memadai.

Mungkin inilah Last Punch untuk tiga bank ini dan saatnya mulai bisa dilirik. Ada beberapa pertimbangan : beberapa bank tidak membentuk low baru (BBNI dan BBRI), sudah terkoreksi lebih dari -50% (BBNI), mulai adanya inflow asing (BBNI).

Inflow Outflow Asing di BBNI

Walaupun kita sama sama menunggu laporan keuangan dari perbankan lokal yang bakalan rilis, semua pasti sudah mengantisipasi adanya koreksi earning. Hal ini terjadi juga di perbankan global bahkan 3 bank utama di Amerika JP Morgan, Citigroup dan Bank of Amerika alami koreksi profit hingga -46%. Namun resilientnya ekonomi dan harapan new normal saat economy restart gradually akan membuat performa alami turnaround.

Saham Seperti BBNI Sudah Ultra Low Valuation

Dalam kondisi sekarang saham seperti BBNI sudah bisa disebut ultra low valuationnya. Bila kita bandingkan dengan kondisi normal  BBNI bergerak pada rentang PER 8-12x, saat ini selalu konsisten berada di bawah level 6x PER.  Selain itu dari sisi PBV dalam kondisi normal saham bank yang lahir di awal kemerdekaan ini diperdagangkan di level 1.2x – beyond 1.5x. Dengan kondisi PBV sekarang sub 0.6x akan punya potensi upside lebih dari 100%

PER PBV Movement BBNI

Dalam kondisi seperti sekarang mungkin bisa menjadi timing yang tepat untuk memulai koleksi saham seperti BBNI.  Dalam beberapa hari asing yang mulai lakukan pembelian, serta harga tertahan tidak membentuk low dibawah 3750. Harga pun sudah berada di area demand nya 3620 – 3810 sehingga bisa mulai sebagai titik akumulasi. Target penguatan ke area 4650 -5000 dalam jangka pendek.  Bila skenario ini  gagal maka titik akumulasi selanjutnya untuk average adalah disekitar area double bottom 2970.

Trading Skenario BBNI

Katalis Global Pemicu Kenaikan Serempak Index Wall Street

Dalam perdagangan semalam Wall Street sumringah, bahkan NASDAQ nyaris dekati level 9000-nya. DOW naik +532 point, S&P 500 close di 2939 naik +2.66% dan NASDAQ lompat +3.57%. Walaupun data GDP Amerika alami kontraksi -4.8% di kuartal pertama 2020, lebih rendah dari ekspekasi analis -3.5% namun tidak menjadi hal yang menakutkan pelaku pasar. Kontraksi GDP ini sudah di price-in.

Ada dua katalis yang penting semalam : komitmen the FED untuk tetap menjaga suku bunga ‘near zero rate’ untuk mendukung pemulihan ekonomi. Indikator pemulihan ekonomi yang dipakai adalah adanya uptick dari employment rate yang terpukul karena COVID19, saat unemployment sudah capai lebih dari 22 juta. Selain itu bunga akan tetap rendah sampai inflasi mendekati target jangka panjang 2%.

Katalis lain adalah hasil report yang tunjukkan bahwa obat Remdesivir yang dibuat oleh Gilead efektif sebagai treatment COVID19. Secara umum pemberian Remdesivir selama  5 hari kepada pasien 64.5% bisa pulih dibandingkan dengan obat lain yang diberikan selama 10 hari  (hanya 53.8%). Bahkan menurut Dr Anthony Faucci, dari gugus tugas di White House, mortality rate dari mereka yang mendapatkan obat ini turun ke level 8% dibandingkan dengan obat lain yang capai 11.6%. Ini menjadi harapan baru bagi recovery economy karena COVID19

Selain itu penguatan harga minyak WTI +22% ke level USD 15.06 per barrel tidak menjadi pressure bagi market. Kenaikan ini didukung oleh data bahwa inventory minyak mentah Amerika hanya naik 9 juta barrel dibandingkan dengan estimasi 11.7 juta barrel. Selain itu perusahaan minyak Amerika juga mulai scaling down produksi jadi 12.1 juta barrel per hari dari angka tertinggi 13.1 juta  per barrel.

BI Jaga Likuiditas, Jadi Katalis IHSG

BI catatkan bahwa sejak Januari hingga Mei 2020 akan tetap melakukan stabilitas sektor moneter dengan suntikkan likuditas ke market. Hingga bulan April sudah gelontorkan 503 trilyun dana ke pasar dengan beberapa mekanisme guna hadang impact COVID19.  Rincian hal yang dilakukan BI termasuk pembelian SBN 166 trilyun, repo bank 137 trilyun, penurunan Giro Wajib Minimum bank 53 trilyun dan swap valas 29 trilyun.

Adanya 3 katalis positif  diharapkan bisa bawa IHSG overpsikologis hari ini. Secara teknikal index kembali berada diatas level support EMA-7 kembali 4548. Indikator cepat mulai indikasikan adanya kekuatan buyer : bull taking over dengan stoch %K diatas %D. Selain itu direction histogram dari MACD sudah mulai positif.

Beberapa saham yang bisa diperhatikan hari ini : BBNI BBTN ADRO AKRA ANTM ASII TBIG PTPP PTBA PGAS MNCN EXCL JPFA INCO INKP WIKA INTP GGRM JSM KLBF TOWR CPIN TLKM HMSP BRPT SMGR PWON. Selain itu ELSA dan MEDC bisa dipantau karena sentimen harga minyak

Tone dan Manner Hari Ini : 3 Katalis Ini Bisa Bawa IHSG Over Psikologis, Pantau Saham Saham Watchlist

Support – Resisten  : 4480 – 4700

******

Kenapa investor asing cabut dari Indonesia ? Benarkah PER masih tinggi sehingga asimg masih enggan masuk ?

Apa impact dari kisruh oil terhadap market ?

Berapa target turun IHSG ? Skenario terburuk apa yang akan terjadi ?

Simak diskusi dan paparan bersama Mr Edhi Pranasidhi “PROSPEK SAHAM INDONESIA PASCA CORONA”

********

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *