IHSG terkoreksi, asing masih jualan, tapi peluang mulai muncul di tengah volatilitas pasar global
Sahamology - 26 Jan 2026
⚡Indeks Harga Saham Gabungan
IHSG pada perdagangan terakhir melemah 0,46% ke level 8.951 setelah sempat menyentuh low 8.838, menandakan tekanan jual masih dominan meski penurunan relatif terkendali. Aktivitas asing kembali net sell Rp114 miliar, mencerminkan sikap wait and see investor global terhadap pasar Indonesia. Dari sisi sektor, tekanan terbesar datang dari IDXTrans (-2,29%) dan IDXCyclic (-2,25%) yang mencerminkan kekhawatiran terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, IDXHealth (+0,64%) dan IDXInfra (+0,17%) menjadi penahan koreksi IHSG. Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih volatil dengan fokus pada aliran dana asing, sektor defensif, serta saham berfundamental kuat sebagai area peluang.
⚡Global Market
Wall Street bergerak mixed dengan Dow Jones turun 0,58%, sementara Nasdaq naik 0,28% dan S&P500 menguat tipis 0,03%. Tekanan datang dari saham Intel yang anjlok akibat outlook mengecewakan, ditambah risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan The Fed yang membuat sentimen pasar global masih tertahan.
⚡Asia Market
Bursa Asia mayoritas menguat dipimpin Nikkei +0,29%, Hang Seng +0,45%, dan KOSPI +0,76%. Nikkei cetak rekor baru didorong ekspektasi stimulus Jepang dan pelemahan yen yang menguntungkan saham eksportir. Hang Seng rebound berkat arus dana ke saham China, meski teknologi masih tertekan. Sementara itu, KOSPI reli kuat dipimpin sektor otomotif dan chip, didukung masuknya dana asing ke emerging market Asia, meski indikator pasar mulai overbought.
⚡Komoditas
Harga minyak WTI melonjak 2,88% ke area USD60–61 per barel didorong sinyal permintaan AS membaik serta risiko geopolitik Iran dan Rusia-Ukraina. Sementara itu, harga emas cetak rekor tertinggi sepanjang masa, naik 1% lebih seiring kuatnya arus safe haven dan sentimen risk-off global. Berbeda arah, harga CPO stagnan di area RM4.175 akibat minim katalis baru, membuat pasar komoditas sawit masih wait and see menunggu pemicu permintaan ekspor.
⚡Rupiah & Kurs
Rupiah melemah ke kisaran 16.832 per dolar AS seiring menguatnya sentimen dolar global akibat data ekonomi AS yang solid. Kenaikan Consumer Sentiment AS memperkuat ekspektasi The Fed menahan suku bunga, membuat DXY tetap kuat sebagai safe haven. Kondisi ini berpotensi menekan arus dana ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
⚡Berita Emiten & Korporasi
ERAA - menyiapkan buyback saham hingga Rp150 miliar pada Jan–Apr 2026 dari kas internal sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental dan upaya menjaga stabilitas harga saham.
MPPA - menyuntikkan tambahan modal Rp46,65 miliar ke anak usaha Toko Mama sebagai langkah agresif menggarap segmen ritel proximity dan memperkuat ekspansi bisnis harian bernilai ekonomis.
NISP - OCBC NISP (NISP) menyalurkan pembiayaan hijau Rp113 miliar ke proyek PLTS Investasi Hijau Satu sebagai bagian strategi memperbesar portofolio energi terbarukan dan ekonomi berkelanjutan.
DEWA - telah menyerap 1,04 miliar saham senilai Rp590 miliar atau 62% dari total buyback Rp950 miliar, dengan sisa dana Rp360 miliar masih siap menopang pergerakan saham di tengah volatilitas pasar.
KETR - bersama MORA resmi memulai proyek kabel laut Rising 8 Jakarta–Batam–Singapura berkapasitas 400 Tbps sebagai infrastruktur digital strategis penopang pertumbuhan konektivitas regional.
⚡Quick Technicals IHSG
IHSG ditutup di bawah EMA 7 yang menandakan momentum jangka pendek mulai melemah, namun harga masih bertahan di atas middle Bollinger Band 20 sehingga tren menengah tetap relatif aman. Stochastic 15 turun dari area overbought, mengindikasikan potensi koreksi sehat. Volume masih stabil, menunjukkan distribusi belum agresif dan peluang rebound teknikal tetap terbuka.