Bagi orang yang sudah terlanjur berinvestasi di pasar modal, bagi orang yang sudah terjun ke dalam Trading Saham, Saham Nyangkut itu adalah sebuah keadaan yang tidak menyenangkan dan selalu ingin dihindari. Memiliki portofolio yang besar di saham-saham dengan kondisi potensial loss yang sangat besar adalah kondisi yang kita sebut sebagai Nyangkut ini.

Bisnis Nyangkutin Orang.. makanan apa lagi itu ya?

Di sisi lain, ‘bisnis menyangkutkan orang’ adalah sebuah bisnis yang mungkin sebenarnya sudah ada, semenjak pasar modal ini ditemukan. Yang disebut Bisnis Menyangkutkan Orang ini seperti ini: Bisnis yang tujuannya adalah ‘dengan sengaja’ membuat orang membeli saham-saham dengan fundamental buruk. Pelakunya bisa saja tidak sengaja, atau bahkan memang sengaja. Pak Tommy.. ini saya ikutan rekomendasinya Pak Tommy.. awalnya sih untung, setelah beli sih, posisinya untung. Tapi.. karena ketika turun saya tidak jual, akhirnya saya nyangkut, dan setelah beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, dan bahkan beberapa tahun, kerugian nyangkutnya ini luar biasa. Sahamnya juga parkir di ARB Rp 50. Jelek bener ini investasi saham, masa saya dibikin rugi?

Kalau berada dalam keadaan seperti itu, dimana ‘anda mengikuti pendapat selebriti pasar modal untuk membeli, terus Nyangkut, terus harga saham turun hingga anda mengalami kerugian yang sangat besar, bahkan harga saham Parkir di ARB Rp 50’, anda mungkin tidak sendirian. Investor yang nasibnya seperti itu, jumlahnya sangat banyak, terutama kalau dalam kondisi market sedang bearish sebagai akibat dari Virus Corona seperti belakangan ini. Saham yang Pakir di Rp 50 tentu banyak. Nyangkuters-nya juga pasti lebih banyak lagi. Apa.. itu resiko pasar? Apakah benar ketika kejadian seperti itu terjadi sebenarnya itu semua adalah hasil dari ‘resiko pasar’? Nggak juga. Beberapa kasus yang terkuak semenjak Oktober 2019 hingga awal tahun ini, sebenarnya adalah hasil pekerjaan dari pelaku Bisnis Menyangkutkan Orang yang berlangsung secara profesional, bisnis yang ‘sengaja atau tidak sengaja’ membuat orang membeli saham dengan fundamental buruk.

Tapi Pak.. Mereka kan Orang Baik?

Loh tapi Pak.. orang-orang seperti Pak Tommy ini, kalau diikutin rekomendasinya, sebenarnya kita bisa cuan loh. Saya aja yang ketika untung gak mau jualan. Saya aja yang ketika untung, nunggu komando jual dari Pak Tommy.. tapi Pak Tommynya gak nongol-nongol. Kalaupun nongol, malah ngomongnya ‘hold aja .. toh storynya bagus’. Jadilah saya tahan hingga posisinya hingga rugi, hingga gocap begini.

Hadeeh… itulah suka dukanya melakukan Pelayanan terhadap Investor Retail yang sudah saya lakukan dalam 20 tahun terakhir. Mereka ini bener-bener keukeuh, berkemauan kuat untuk mengejari profit, tanpa melihat resiko yang dihadapi. Mereka juga keukeuh untuk bermain api. Mereka juga keukeuh untuk percaya atas seseorang, atau sebuah ide yang membuat mereka bisa menjadi lebih kaya. Melarang para Investor Retail ini untuk mendengarkan rekomendasi yang tidak jelas? Berharap OJK atau BEI mau bertindak untuk memberantas orang-orang yang ‘sepertinya memberikan rekomendasi padahal berkepentingan’ seperti ini? Percuma lah… saya sudah belasan tahun melakukannya. Seperti perjuangan melawan tembok: keras, percuma, dan gak maju-maju.

Menjadi Trend Following Trader adalah solusi bagi Investor Saham Retail di Bursa Efek Indonesia untuk Menghindari Posisi Nyangkut Saham

Lalu apa yang bisa Kita lakukan? Apa yang bisa Saya lakukan? Aturan dasar dari seorang trader saham adalah: Beli ketika mau naik, dan Jual ketika mau turun. Lakukan posisi beli ketika harga terlihat akan bergerak naik (sudah melewati bottom atau titik terendahnya), dan melakukan posisi jual ketika harga terlihat akan bergerak turun (sudah melewati top atau titik tertingginya). Strategi ini disebut sebagai Strategi Trend Following, mengikuti trend, strategi bertransaksi, melakukan posisi beli dan posisi jual, mengikuti arah pergerakan harga.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Apa alat analisis teknikal yang paling mudah diakses oleh para Investor Retail ini? Apa alat analisis setiap hari ada didepan para Investor Retail yang melakukan akses pasar modal secara langsung melakui internet atau online trading dari perusahaan sekuritas? Jawabannya jelas: Candlestick Chart atau grafik Candlestick. Ah.. candlestick? Candlestick kan ribet? Harus menghafal banyak pola candlestick, nama-nama, udah gitu terlalu sederhana. Ribet dan gak bikin PeDe (percaya diri) deh pokoke! Ndak ah kalau Candlestick!!!

Candlestick Kontemporer dalah Tools bagi seorang Trader Saham Trend Follower

Untuk memenuhi kebutuhan dari para investor retail, yang gak mau ribet, gak mau menghafal, dan maunya praktis ini, saya mencoba untuk menawarkan pembelajaran Candlestick, dengan sebuah pendekatan yang saya sebut sebagai Candlestick Kontemporer. Secara singkat, Candlestick Kontemporer ini adalah sebuah cara untuk melakukan trend following dengan menggunakan Candlestick, dengan tanpa perlu menghafal pola candlestick, tanpa menghafal candlestick pattern. Kita hanya menentukan suport, resisten, dan trend dari sebuah candlestick, dan menentukan level harga beli dan level harga jual, berdasarkan pada candlestick yang sudah terbentuk pada periode sebelumnya.

Mau tahu bagaimana detailnya? Buku mengenai Candlestick Kontemporer ini bisa diperoleh di Tokopedia melalui link dibagian akhir dari tulisan ini.

Kalau anda kepingin belajar langsung mengenai Candlestiock Kontemporer ini langsung dari saya, anda bisa mengikuti acara Bedah Buku Candlestick Kontemporer yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 21 Maret 2020, jam 13.00 sampai selesai, di The H Tower Rasuna Said lantai 15 (samping MMC). Acara ini gratis bagi mereka yang sudah membeli buku Candlestick Kontemporer.Sampai jumpa di acara Bedah Buku Candlestick Kontemporer nanti….

Buku Candlestick Kontemporer bisa diperoleh

https://www.tokopedia.com/bukusaham/exclusive-tutorial-book-candlestick-kontemporer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *