Index terkapar lagi dalam perdagangan kemarin. Walaupun sempat berada di zona hijau dan sentuh level harga mendekati 5500 namun index tak kuasa tahan nasibnya setelah Presiden umumkan kasus 2 warga Depok positif COVID19 jelang siang. Sejak penyampaian tersebut index terus melorot hingga ditutup turun -91 point atau -1.68%.

Ada berita baiknya ketika kemarin index terkoreksi : jumlah saham yang naik lompat nyaris  2x lipat dari 89 emiten ke 158 emiten. Selain itu aksi jual asing pun tercatat masih di level -325 milyar yang mayoritas terjadi pada saham saham FINANCIAL sebanyak -472 milyar. Sektor lain seperti MISC-IND justru kebanjiran dana masuk +143 milyar dan INFRASTRUCTURE +50 milyar. BBRI menjadi saham perbankan yang paling banyak dilepas sampai -288 milyar sehingga harganya turun dalam -5.01% disusul oleh BBCA -97 milyar dan BBNI -38 milyar. Terseretnya IHSG -1.68% lebih karena terpuruknya sektor FINANCE yang terkoreksi -3.04% dan mayoritas karena 4 saham utamanya BBCA BBRI BMRI dan BBNI semuanya turun lebih dari -3.3%. Ini lah kenapa bila dibandingkan dengan saham saham syariah yang masuk adalam JII  (yang tidak ada saham perbankan), indexnya harga turun -0.53%.

Indonesia Masuk Dashboard COVID19 Global

Masuknya Indonesia dalam negara yang terjangkit COVID19 menjadi bukti bahwa tidak ada  negara yang kebal terhadap pandemi global ini. Sejak  kasus ini ditemukan di China jelang libur Imlek telah tularkan 90,306 pasien. Sebanyak 45000 lebih sudah pulih kembali dan 3085 meninggal selama perawatan. Angka kematian terbesar di golongan usia tua dan pernah menderita penyakit kronis sebelumnya.

Setelah di China mulai terjadi pelambatan, kasus COVID19 jusrtu mulai meledak di 3 negara : South Korea, Italy dan Iran dengan total kasus positif capai 7800 lebih. Saat ini Eropa juga dalam masa yang kritis karena 2 negara besarnya mulai lampaui threshold 150 kasus. Di Prancis sudah ada 191 kasus dan di Jerman terdapat 159 kasus. Hal ini yang membuat index bursa di Jerman dan Itali kemarin masih di zona merah.

3 Index Utama Wall Street Alami Kenaikan Tertinggi Sejak Maret 2009

Semalam telah terjadi massive rebound di bursa Wall Street, setelah DOW naik +1293 yang setara dengan +5.09%. Hal ini menjadi kenaikan terbesarnya pasca krisis finansial di Maret 2009. S&P 500 pun meroket  lebih dari +4.6% setelah saham Apple pimpinan kenaikan +9.3% dan saham saham farmasi Merck +6.3% dan Walmart +7.6%. Sektor yang naik lebih dari +5% termasuk utilitas, teknolog, konsumsi dan real estate. Kenaikan ini setidaknya bisa memulihkan sedikit kekhawatiran investor setelah semua index masuk zona koreksi di pekan lalu.

Selain itu harga harga komoditas minyak dan emas pun mulai pulih kembali. Minyak mentah acuan WTI naik USD 1.99 atau +4.45% menjadi USD 46.75 per barrel. Sedangkan Brent diperdagangkan di level USD 51.87.Harapan OPEC+ Rusia akan lakukan pemangkasan lanjutan guna antisipasi respond pelambatan demand minyak menjadi katalis utamanya. Selain itu harga emas kembali naik dekati level USD 1600 per ounce setelah harga spotnya menguat +0.53% ke USD 1593. Harapan terjadinya pemangkasan suku bunga oleh banyak bank sentral membuat appetite ke logam mulia sebagai safe haven instrument akan muncul kembali.

Bisakah Index Recovery dan Memantul ?

Hari ini index akan mencoba recover dari sharp drop kemarin ditopang oleh sentimen positif dari bursa global yang meroket. Setidaknya di awal akan terjadi over psikologis karena kondisi ini kemudian akan berangsur normal guna melakukan asesmen terhadap impact dari COVID19 di tanah air. Beberapa saham perbankan yang kemarin tertekan akan mencoba untuk rebound  mengingat belum adanya perubahan dari sisi fundamental sehingga bisa menjadi peluang buy on discount price. Selain itu saham saham komoditas minyak seperti ELSA dan MEDC juga bisa diharapkan terjadi rebound seiring dengan memantulnya harga minyak acuan.

Index hari ini diproyeksikan akan bergerak dekati area gap 5456- 5475 dengan support 5288. Stochastic sudah terjadi golden cross dimana kekuatan buyer telah muncul, namun secara MACD histrogram masih negatif. Jadi tetap perlu waspada jangan lengah.

Tone dan Manner IHSG : Dihajar oleh COVID19, IHSG Coba Pulih Ikuti Trend Global

Potensi Pergerakan :  5288 – 5526

Setelah sentuh level support 5288, index mencoba untuk recover walaupun sempat terkoreksi imbas pengumum 2 pasien positif COVID19.  Semakin menjauh dari support dan positifnya sentimen global jadi tanda potensi teknikal rebound.

Yuk kita cek seberapa kuat reboundnya market https://sahamology.id/mengukur-kekuatan-kalauihsg-dead-cat-bounce/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *